28 October 2019, 12:10 WIB

Fesyen Lestari Chitra Subyakto


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Weekend

ANT/Rivan Awal Lingga
 ANT/Rivan Awal Lingga
Model membawakan rancangan Chitra Subyakto, "Sejauh Mata Memandang", Jakarta Fashion Week 2020 di Senayan City.

Industri fesyen menjadi salah satu bidang yang sering disalahkan ketika menyangkut masalah pencemaran lingkungan, mulai dari limbah pewarnaan hingga sanitasi air bersih.

Setahun belakangan, industri fashion ini pun terus membenahi diri agar seminimal mungkin menghasilkan limbah. Salah satunya yang dilakukan
Chitra Subyakto, founder brand Sejauh Mata Memandang yang ingin memberikan kesan positifnya di bidang feysen yang digelutinya.

"Kami dari Sejauh Mata Memandang ingin membuat produk atau karya yang ketika saya sudah mati tidak akan jadi sampah di TPA atau di laut. Hal itu bisa dilakukan dengan memilih fashion yang buatan tangan yang bisa dipakai sampai sepuluh tahun ke depan," kata Chitra, pada talkshow di gelaran Jakarta Fashion Week (JFW) 2020, kawasan Senayan City, Jakarta Pusat, Kamis (24/10)

Hal ini telah dilakukan Chitra pada koleksi-koleksinya. Ia banyak menggunakan material kain yang dapat terurai dengan cepat apabila sudah tidak digunakan. "Jadi menggunakan bahan yang sebisa mungkin tak  mengandung poliester, tetapi bahan ramah lingkungan seperti tencel, linen atau organic cotton," katanya.

Kain-kain itu dipercaya Chitra dapat terurai dengan cepat dan tak menimbulkan banyak sampah.

Ia memang mengakui industri feysen telah menghabiskan banyak air hanya untuk membuat selembar kain saja. Sehingga yang ia lakukan pada koleksi yang juga baru ia luncurkan di JFW adalah  hasil dari kreasi yang ia buat dari kain yang ada. Ia tak membeli bahan baru sehingga teknik patchwork pun mendominasi.

"Bumi sekarang umurnya sudah tua banget. Banyak masalah sampah yang harus dibereskan. Kok kita egois banget kalau enggak berbuat sesuatu," lanjutnya.  

BACA JUGA: Menawannya Fesyen Ramah Lingkungan

Bagi Chitra, cara yang paling gampang untuk mendukung gerakan ini antara lain dengan berani membayar lebih untuk produk fesyen yang berkualitas, dan tak menggunakan sembarang bahan. "Contohnya saja, bahan polyester biasanya lebih murah tetapi mengandung plastik yang tidak ramah lingkungan," terang Chitra.

Cara lainnya, memilih barang yang akan dibeli dengan berbagai pertimbangan. Selain material, juga dipikirkan model bajunya apakah bisa digunakan dalam berbagai kegiatan, jangka waktu lama dan bisa dipadupadankan.

Tak hanya itu, Chitra menyarankan untuk membeli produk feysen dengan nilai dan makna di baliknya, umpama menggunakan teknik handmade untuk bisa membantu perekonomian perajinnya. (M-2)

 

BERITA TERKAIT