28 October 2019, 16:00 WIB

Inovasi Biofoam dan Bioplastik dari Para Gen Z


Bintang Krisanti | Weekend

(sesuai arah jarum jam) Bintang Krisanti/ Kholida Rohma/ Azzalira Alayya
 (sesuai arah jarum jam) Bintang Krisanti/ Kholida Rohma/ Azzalira Alayya
Dua siswa MAN 2 Kudus, Kholida Rohma dan Tazkiya Salsabiila (atas) menunjukkan biofoam karya mereka. Biofilm dari mikroalga (kanan bawah).

SEPERTI banyak orang lainnya, Kholida Rohma dan Tazkiya Salsabiila senang jajan. Apalagi dengan tinggal di asrama, dua murid Madrasah Aliyah Negeri 2 Kudus itu memang lebih terbiasa membeli makanan jadi. Hal serupa juga dilakukan teman-teman seasrama mereka.

Meski begitu, kebiasaan itu sebenarnya membuat Kholida dan Takziya jenuh. Mereka tahu stirofoam yang jadi kemasan jajanan tersebut akan membahayakan lingkungan karena tidak dapat terdegradasi. Bahkan, dibakar pun, zat kimia stirofoam akan merusak ozon.

Sebab itulah, ketika ada ajang kompetisi karya ilmiah di sekolah, kedua sahabat itu sepakat dengan ide membuat kemasan atau wadah makanan pengganti stirofoam. "Setelah baca-baca jurnal, jadi kita dapat ide bikin biofoam pakai pati dari singkong dan selulosa dari bambu," ujar Kholida kepada Media Indonesia di Indonesia Science Expo 2019 di ICE, BSD City, Tangerang, Rabu (23/10).

Penelitian Kholida dan Tazkiya yang berjudul Pemanfaatan Pati Tapioka dan Selulosa Bambu Betung (Dendrocalamus asper) sebagai Bahan Pembuatan Biofoam Ramah Lingkungan menjadi salah satu finalis yang lolos di Lomba Karya Ilmiah Remaja 2019. Mereka bersaing dengan 49 penelitian lainnya untuk penghargaan yang akan diumukan Sabtu (26/10).

Tazkiya mengungkapkan, pada penelitian itu mereka memilih bambu betung karena banyak terdapat di lingkungan sekitar mereka di Kudus. Bambu itu umum digunakan sebagai bahan bangunan.

Untuk proses penyerutan bambu, ia meminta tolong kepada pamannya. "Kebetulan paman saya memang ada mesin penyerut, jadi menumpang di sana," tambah siswa kelas 12 itu.

Proses pembuatan piring biofoam kemudian dilakukan di Laboratorium Polimer LIPI. Selama lima minggu, dengan pendampingan peneliti LIPI dr Sukma Surya K, mereka mencari komposisi terbaik. Dari empat komposisi, mereka mendapatkan biofoam terbaik memiliki komponen rasio pati dan selulosa 2:1.

Biofoam dengan rasio pati-selulosa 2:1 itu dapat terdegradasi sempurna. Sementara itu, jika biofoam dengan perbandingan pati-selulosa sama atau selulosa lebih besar, belum terdegradasi sempurna.

Biofoam 2:1 itu juga sudah menjalani uji ketahanan air. Takziya mengatakan saat piring biofoam diisi air hingga setengah volumenya, piring itu menjadi lembek. "Iya, tapi memang waktu itu hanya dicoba sebentar, mungkin hanya semenit jadi kalau lebih lama diberi air belum tahu apa kuat," jelasnya sembari memegang piring biofoam berwarna kecokelatan tersebut.

Kholida menambahkan, jika biofoam yang mereka buat memang masih perlu banyak penyempurnaan. Ketahanan terhadap air dapat ditingkatkan dengan penggunaan biofilm dari rumput laut atau bahan yang mengandung kolagen lainnya. Ia pun sepakat jika perlu pula pengujian dengan memanfaatkan kulit singkong sebab pemanfaatan daging singkong untuk biofoam dalam skala besar dapat bersaing dengan kebutuhan makanan manusia.

"Tadinya terpikir juga (pakai kulit singkong), tapi waktu penelitiannya terbatas dan saat masukin penelitian sudah menyebut singkong saja," kata Tazkiya.

Baik Kholida maupun Tazkiya, mereka berharap jika penelitian itu dapat berlanjut. "Mudah-mudahan juga nantinya bisa diterapkan supaya enggak banyak lagi pakai stirofoam, enggak banyak limbah," ujar Kholida.

Bioplastik

Dalam pameran tersebut, banyak pula penelitian lain yang terkait dengan bahan kemasan yang ramah lingkungan. Dua penelitian sejenis itu ialah bioplastik dari pati biji karet dan bioplastik dari mikroalga dan sampah daun mangrove.

Bioplastik dari pati biji karet dibuat Muhamad Yudi Triana dan Fitrotullailas Tuti dari SMAN 1 Malingping, Banten. Menurut penelitian mereka, komposisi terbaik didapatkan dari perbandingan pati-aquades 1:20 dan penggunaan gliserol 5%. "Bioplastik ini cocok untuk makanan yang kering dan tidak panas, contohnya untuk pembungkus kerupuk," kata Muhamad Yudi. Bioplastik yang cukup kaku itu, menurutnya, dapat terurai di tanah dengan sempurna dalam jangka waktu sembilan hari.

Sementara itu, bioplastik berupa edible film dari mikroalga dan daun mangrove dibuat Azzalira Alayya dan Fifi Munasaroh dari MAN 1 Kudus. Mereka menemukan komposisi terbaik dibuat dari perbandingan spirulina-daun mangrove-tepung mocaf sebesar 1:2:6.

Dengan perbandingan itu, ketebalan edible film mencapai 0,12 milimeter. "Ini cocok buat pembungkus makanan, misalnya, buat pembungkus jenang," ujar Azzalira.

Dalam pameran itu, mereka membawa jenang yang telah dibungkus dengan edible film tersebut. Mereka menyatakan pengemasan itu telah berusia 1 minggu. "Kalau yang masih lembaran ini sudah satu bulan. Dua-duanya enggak jamuran," kata Azzalira.

Melihat berbagai inovasi dari siswa-siswi SMA itu, Kepala LIPI Laksana Tri Handoko mengaku bangga. "Hebat anak-anak ini. Saya lihat juga penelitiannya banyak yang bisa diterapkan, jadi bukan sekadar semangat meneliti saja," ujarnya di sela-sela berkeliling melihat pameran penelitian para siswa itu.

Tri Handoko mengungkapkan jika LIPI akan membantu paten untuk penelitian-penelitian itu. "Akan kita bantu paten sederhana," tambahnya.

Total ada 50 penelitian yang masuk ke LKIR 2019. Penelitian itu tidak hanya soal iptek, tetapi juga penelitian sosial, seperti pengaruh Go-Pay terhadap konsumsi pelajar, bahkan pembuatan museum biografi koruptor untuk menimbulkan efek jera bagi para pelaku.

Selain penelitian-penelitian LKIR, pada pameran itu juga dihadirkan penelitian-penelitian yang masuk dalam National Young Inventor Award. Kemudian, ada pula 150 proyek penelitian dari International Exhibition for Young Inventors (IEYI). Ajang itu diikuti partisipan dari 11 negara, yakni Indonesia, Jepang, Makau, Malaysia, Filipina, Rusia, Singapura Taiwan, Thailand, Tiongkok, dan Vietnam. (Big/M-3)

BERITA TERKAIT