28 October 2019, 12:43 WIB

Kemajuan Perundingan Dagang akan Menjadi Pendorong Indeks Pasar


Fetry Wuryasti | Ekonomi

Antara/M Risyal Hidayat
 Antara/M Risyal Hidayat
Pegawai melintas di depan layar pergerakan harga saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

SEPEKAN ke depan pasar akan memperhatikan rapat the Fed yang diperkirakan akan kembali memangkas suku bunga yang ketiga kalinya di tahun ini.

Pasar juga menanti signal Fed tentang kecepatan pemangkasan bunga dan peluang besarnya pemangkasan bunga ke depannya. Saat ini konsensus menunjukan 87% pedagang pasar mengharapkan penurunan 25 basis point.

Berita kemajuan perundingan perang dagang antara AS dan Tiongkok menjadi bahan bakar positif pasar, tetapi selalu perlu diwaspadai karena perbedaan kedua negera masih sangat banyak terkait perdangan, nilai tukar, kebijakan proteksi dan teknologi.

Salah satu yang cukup penting adalah apakah bulan Desember terjadi penangguhan kenaikan tarif atau bea masuk impor, seperti yang diminta Tiongkok bila negosiasi perang dagang berjalan dengan baik.

"Laporan keuangan korporasi yang terbit juga mempengaruhi pergerakan pasar. Sejauh ini 75% perusahaan S&P 500 yang melaporkan pendapatan, 82,7% melampaui ekpektasi pasar, dan 12 % di bawah harapan pasar," ujar direktur PT. Anugerah Mega Investama Hans Kwee,melalui keterangan yang diterima, Senin (28/10).

Masalah Brexit masih akan menjadi perhatian pasar. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memgatakan perlu waktu lebih lama untuk mempelajari RUU tentang Brexit.  Selain itu dia juga meminta parlemen mengelar pemilhan umum pada 12 Desember untuk memecahkan kebuntuan politik seputar Brexit.

Rapat Bank of Japan (BoJ) yang berlangsung akhir bulan Oktober ini diperkirakan akan menjaga kebijakan moneter stabil mengingat kondisi pasar yang relative stabil.

Lemahnya data pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang hanya 6% di kuratal tiga dari sebelumnya 6,2% di kuratal ke 2 menjadi perhatian pasar.

Pertumbuhan ini yang terendah sejak awal 1990an, membuka harapan Tiongkok memberikan lebih banyak kebijakan longar untuk mendorong perekonomian.

Pasar Indonesia pekan lalu diwarnai berita positif seputar Jajaran Menteri yang terpilih, beberapa kali pasar berbalik positif akibat kebijakan ini.

Selain itu penurunan suku bunga BI 7-Day Repo Rate pada perdagangan Kamis dari 5,25% menjadi 5% menjadi pendoroang kenaikan Indeks.

Koreksi indeks harga saham gabungan (IHSG) pada hari Jumat pekan kemarin lebih merupakan aksi ambil untung di pasar.

Hal ini mengingat kenaikan yang tajam dalam 3 minggu sebelumnya. Dari posisi 6.000,58 pada 7 Oktober 2019, IHSG telah di tutup pada 6.339 pada perdangangan Kamis  24 Oktober 2019.

"Kami perkirakaan di awal pekan IHSG berpeluang rebound terbatas dengan support di level 6.197 sampai 6.099 dan resistens di level 6.300 sampai 6.348," tutup Hans Kwee. (Try/OL-09)

BERITA TERKAIT