28 October 2019, 09:30 WIB

Reaksi Dunia Atas Tewasnya Al-Baghdadi


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP/AL-FURQAN MEDIA
 AFP/AL-FURQAN MEDIA
Abu Bakar al-Baghdadi 

PEMIMPIN kelompok Islamic State (IS), Abu Bakar al-Baghdadi telah tewas dalam serangan militer Amerika Serikat (AS). Selama konferensi pers, Minggu (27/10), Presiden AS Donald Trump mengatakan Al-Baghdadi telah di bawah pengawasan selama beberapa minggu.

Menurut Trump, Al-Baghdadi meninggal setelah berlari ke sebuah terowongan di Desa Barisha, tempat ia meledakkan rompi peledak yang menewaskan dirinya dan tiga anaknya yang masih muda.

Dalam pengumuman tersebut, Trump mengucapkan terima kasih kepada Turki, Suriah, Irak, Rusia, dan Kurdi-Suriah atas kerja sama mereka.

Reaksi dunia terhadap berita itu terbelah, dengan beberapa pemimpin menyebutnya sebagai titik balik dalam perang melawan ‘terorisme’ sementara beberapa pemerintah mengecilkan signifikansinya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pembunuhan Al-Baghdadi menandai titik balik dalam perjuangan bersama melawan terorisme.

Baca juga: Pemimpin IS Tewas di Suriah

Kementerian pertahanan Rusia bereaksi terhadap berita itu dengan skeptis, dengan mengatakan mereka tidak memiliki informasi yang dapat dipercaya mengenai operasi AS.

"Kementerian Pertahanan Rusia tidak memiliki informasi yang dapat dipercaya tentang aktivitas prajurit AS di bagian yang dikontrol Turki dari zona deeskalasi Idlib yang melaksanakan operasi yang ‘mengeliminasi mantan pemimpin IS, Abu Bakr al-Baghdadi," ujar Mayor Jenderal Igor Konashenkov dikutip kantor berita RIA.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, menyebut peristiwa itu sebagai ‘pencapaian yang mengesankan’.

"Prestasi ini merupakan tonggak penting, tetapi kampanye masih menjadi tantangan kita," tambahnya.

Menteri Informasi Iran Mohammed Javad Azari-Jahromi menyebut pembunuhan Al-Baghdadi adalah ‘bukan prestasi besar’.

“Anda baru saja membunuh makhluk yang Anda ciptakan sendiri,” ujarnya.

Ia tidak mengelaborasi, tetapi Iran sering menuduh AS yang menciptakan IS, tanpa memberikan bukti.

Menteri Luar Negeri Bahrain Khalid bin Ahmed Al Khalifa memuji langkah itu dan mengatakan keberhasilan tersebut adalah pukulan fatal bagi kelompok teroris itu.

Menteri Pertahanan Prancis, Florence Parly, memberi selamat kepada AS, tetapi memperingatkan bahwa perang melawan IS akan berlanjut.

"Saya mengucapkan selamat kepada sekutu Amerika kami untuk operasi ini. Pikiranku tertuju ke semua korban kegilaan Baghdadi dan para penjahat yang mengikutinya."

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan ini adalah momen penting, tetapi juga memperingatkan pertempuran melawan IS belum berakhir.

“Kematian Al-Baghdadi adalah momen penting dalam perjuangan kita melawan teror, tetapi pertempuran melawan kejahatan Daesh belum berakhir.”

“Kami akan bekerja dengan mitra koalisi kami untuk mengakhiri kegiatan Daesh (IS) yang biadab dan mematikan untuk selamanya,” tandasnya.

Al-Baghdadi, yang bernama asli Ibrahim Awwad Ibrahim al-Badri, memiliki reputasi sebagai ahli taktik medan perang yang sangat terorganisasi dan kejam. Dia digambarkan sebagai pria yang paling dicari di dunia.

Seorang warga di Barisha, tempat serangan itu dilaporkan terjadi, mengatakan kepada BBC helikopter melancarkan tembakan selama 30 menit pada Sabtu (26/10) malam, sebelum pasukan aktif di darat. Helikopter menembaki dua rumah, meratakan satu, terangnya. (AFP/Al Jazeera/OL-2)

BERITA TERKAIT