28 October 2019, 04:00 WIB

SYL Siapkan Kecamatan Jadi Sentra Kendali Pangan


LN/E-2 | Ekonomi

MI/Lina Herlina
 MI/Lina Herlina
Ngopi dan Bincang Bareng di Kantor Partai NasDem Sulawesi ­Selatan (Sulsel), Makassar.

MENTERI Pertanian ­Syahrul Yasin Limpo (SYL) mulai merumuskan gagasan untuk meningkatkan produksi pangan Indonesia dengan membangun sistem Komando ­Strategis Teknis Pertanian (Kontras Tani) yang rencananya dipusatkan di tiap kecamatan.

“Ini sesuai dengan keinginan partai yang didirikan Bapak Surya Paloh, restorasi, perubahan. Kita mulai dari bawah, kemandirian pangan harus dimulai dari tingkat kecamatan. Jadi, doakan saya membuat sistem baru tersebut,” seru Syahrul dalam acara Ngopi dan Bincang Bareng di Kantor Partai NasDem Sulawesi ­Selatan (Sulsel), Makassar, Sabtu (26/10) malam.

Ia berharap dalam 100 hari kerjanya sebagai menteri, semua data pangan yang dibutuhkan bisa ia dapatkan. Data pangan itu untuk mengukur masa panen dan kebutuhan lahan tiap wilayah.

“Saat ini kondisi cuaca lagi panas-panasnya. Harus lihat potensi lahan pertanian mana yang produktif dan tidak, serta mengukur masa tanam baik di musim penghujan maupun saat masuk kemarau panjang seperti sekarang agar produksi pangan kita bisa stabil,” kata mantan Gubernur Sulsel dua periode tersebut.

Pria yang akrab disapa SYL itu menyebutkan pengendalian pangan dan pertanian nantinya akan dikendalikan pada setiap kecamatan sebagai bagian dari upaya ketahanan pangan Indonesia, mengingat ada 267 juta rakyat Indonesia yang butuh makanan.

Ia mengaku optimistis sistem pertanian akan semakin maju, modern, dan lebih mandiri. Apalagi saat ini ditunjang dengan teknologi yang bisa diakses siapa saja.

Mantan Camat Bontonompo, Kabupaten Gowa, itu mengaku sudah menyampaikan gagasan tersebut kepada Presiden Joko Widodo dan langsung diberikan lampu hijau.

Ia pun mengulas sejak ­dirinya menjabat gubernur terjadi surplus beras di Sulsel, bahkan dikirim ke beberapa provinsi. Hal itu menjadi bagian dari rumusannya menjadikan Indonesia kembali swasembada pangan. (LN/E-2)

BERITA TERKAIT