28 October 2019, 01:20 WIB

Proteksi Kesehatan Global Dibidik


Hilda | Ekonomi

DOK CIGNA
 DOK CIGNA
President Director and CEO Cigna Indonesia Phil Reynolds.

PT Asuransi Cigna (Cigna Indonesia) memperkuat kemitraan dengan pialang asuransi untuk memperluas jangkauan pemasaran produk proteksi di  Tanah Air.

Cigna ingin melaju cepat di 2020 mendatang, terutama dalam upaya menangkap potensi besar asuransi kesehat-an global.

Produk premium Cigna seperti Global Individual Private Medical Insurance, pesertanya baru sekitar 1% dari total nasabah Cigna yang berjumlah  1,5 juta orang.

President Director & CEO Cigna Indonesia Phil Reynolds meyakini permintaan terhadap produk seperti itu akan meningkat. Hal tersebut melihat dari pertumbuhan masyarakat kelas menengah di Indonesia.

“Kami hadir untuk membantu masyarakat Indonesia meningkatkan kesehatan,  ke-sejahteraan, dan ­ketenangan pikiran. Karena itulah, berbagai cara kami lakukan untuk meningkatkan proteksi bagi masyarakat Indonesia, termasuk menggandeng para pialang asuransi,” ujar Phil Reynolds dalam sebuah seminar dii Jakarta, pekan lalu.

Cigna pernah melansir data  ada sekitar Rp155 triliun yang dihabiskan sekitar 1 juta ­orang Indonesia untuk berobat ke luar negeri.

Phil menilai gap proteksi di Indonesia masih mengkhawatirkan karena baru  3% yang memiliki asuransi. Oleh karena itu, pihaknya giat mendorong literasi keuangan kepada masyarakat.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon menuturkan porsi asuransi kesehatan selalu masuk tiga besar dalam industri asuransi di berbagai negara. Karena itu, ia berharap masyarakat Indonesia lebih banyak menggunakan asuransi kesehatan yang bersifat komersial.

Ia tidak menampik potensi masyarakat Indonesia yang ingin mendapatkan produk  premium lumayan tinggi.

Ketua Umum Perkumpulan Ahli Manajemen Jaminan dan Asuransi Kesehatan ­Indonesia Rosa Christiana Ginting memperkirakan potensi pasar proteksi kesehatan global mencapai  20%  atau sekitar 53 juta orang di Indonesia.

Cigna optimistis, dengan berbagai jalur distribusi, termasuk menggandeng para pialang atau broker, kinerja perusahaan bisa lebih baik.   

Pada kuartal I 2019, GWP dari telemarketing mencapai Rp169,75 miliar. Adapun pendapatan premi bruto dari keagenan Rp19,53 miliar.

Generasi sandwich

Dalam kesempatan terpi-sah, Hanwha Life Insuran-ce Indonesia meluncurkan ­Hanwha Saving Insurance di Jakarta pada akhir pekan lalu. Produk itu ditujukan bagi generasi sandwich yang  yang memiliki risiko pemenuhan finansial untuk orangtua dan anak.

“Setiap keputusan finansial berpengaruh besar terhadap kualitas hidup. Apabila baru merencanakan keuangan pada usia 30-45 tahun, ­sebaiknya memilih instrumen investasi yang risikonya rendah atau sedang, dengan jangka waktu di bawah 10 tahun,” papar  David Yeom, CEO Hanwha Life Insurance Indonesia.

Marketing Hanwha Indonesia, Yuda Juliana, melihat pasar Indonesia akan asuransi jenis ini masih tinggi. Data menyebutkan baru 2 dari 10 orang yang mempersiapkan. “Jadi, pasarnya masih sangat luas, sekitar 80%.” (E-1)

BERITA TERKAIT