27 October 2019, 11:35 WIB

Festival Ratoh Jaroe, Diplomasi Budaya ala Aceh


Zubaidah Hanum | Humaniora

Dok BPPA
 Dok BPPA
Penampilan peserta audisi Festival Ratoh Jaroe 2019 di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sabtu (26/10). 

RATUSAN remaja putri berpakaian khas Aceh memenuhi auditorium Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jakarta, Sabtu (26/10) malam. Warna-warni dan beragam motif, namun tetap memunculkan motif pintu Aceh pada baju maupun celana panjang hitam yang mereka kenakan.

Polesan bedak dan pemulas bibir mereka tak bisa menyembunyikan betap letihnya mereka, setelah seharian mengikuti audisi grand final Festival Ratoh Jaroe 2019 yang memperebutkan piala bergilir Gubernur Aceh.

Ratoh Jaroe merupakan salah satu tari tradisi Aceh yang mendunia, selain Seudati dan Saman. Meski gerakannya cukup sulit, hal itu tidak menyurutkan animo para milenial yang berasal dari sejumlah SMP, SMA hingga perguruan tinggi di Indonesia untuk mengikuti audisi Festival Ratoh Jaroe yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi Aceh.

"Audisi tari Ratoh Jaroe 2019 melibatkan 1.560 peserta. Satu grupnya terdiri dari 13-20 peserta. Namun, tidak semuanya lolos sampai ke final," ucap Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) Almuniza Kamal.

Ratoh Jaroe berasal dari bahasa Arab. Ratoh berarti pengucapan doa dengan memuji Allah. Jaroe artinya jari. Ratoh Jaroe adalah tarian memuji kebesaran Allah SWT dengan menggerakkan tangan dan tubuh yang dimainkan sambil duduk.

Festival Ratoh Jaroe tahun ini adalah tahun ke-12 pelaksanaannya sejak pertama kali digelar pada 2007 lalu. Audisi dilakukan tidak hanya di Jabodetabek, tapi meluas hingga Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta.

Pertama kali audisi Festival Ratoh Jaroe dilakukan untuk tingkat SMP pada Maret 2019 lalu, diikuti 31 grup sebagai menjadi pesertanya. Pada tingkat SMA dan perguruan tinggi, ada 24 grup yang berkompetisi.

Lewat seleksi ketat berdasarkan kekompakan, kreativitas, penampilan dan tata busana, tim juri akhirnya mememutuskan SMA Negeri 90 Jakarta dan SMP Islam Al Azhar 8 Kemang Pratama sebagai Juara I pada masing-masing kelompok. Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah yang diwakili oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Jamaluddin mengaku gembira atas sambutan masyarakat Indonesia yang begitu antusias mengikuti Festival Ratoh Jaroe tahun ini.

"Tarian ini memang dari Aceh, tapi sudah menjadi pemersatu bangsa Indonesia," ucap Nova dalam rekaman video yang ditampilkan.

Ia mengatakan, pada pembukaan Asian Games 2018 tarian Ratoh Jaroe sempat dipertontonkan dan mengundang decak kagum banyak orang.

"Ada yang menganggap itu tari Saman, hal itu bisa dimaklumi karena gerakannya agak mirip. Tapi sebenarnya beda," sebut Nova.

Dijelaskannya, jika tari Saman dimainkan oleh laki-laki dalam jumlah ganjil, maka Ratoh Jaroe dimainkan oleh penari perempuan dalam jumlah genap. Tari Saman sama sekali tidak diiringi musik, sedangkan Ratoh Jaroe diiringi musik rapa'i.

Tari Ratoh Jaroe bukan sekadar tarian biasa, tapi lebih dari itu. Tari tradisional ini juga telah melanglang buana hingga memenangi banyak kompetisi seni budaya di berbagai negara.

Safira dan Nurul merupakan siswi kelas 2 SMAN 1 Tangerang, merupakan peserta audisi Ratoh Jaroe di Jakarta yang lolos ke babak final. Meski tak berhasil memenangkan ajang itu, mereka berbesar hati.

"Dengan menari, saya jadi percaya diri tampil di depan banyak orang dan mengasah potensi diri saya," ucap Nurul yang telah mengikuti eksul tari tradisional sejak SMP.

Gadis berkacamata itu bersyukur bisa meneruskan hobinya menari di SMAN 1 Tangerang dengan mengikuti ekstrakurikuler Tari Saman.

"Tari daerah bagus untuk melestarikan budaya. Di sekolah kami ada juga ekskul dance dan cheerleader.Tapi tman-teman enggak ada yang ngeledekin kuno. Justru mereka kagum melihat kami menari karena unik dan beda," tutur Nurul.

Jadi tren

Hampir sebulan sekali mereka ikut perlombaan dengan biaya swadaya per siswa mulai dari Rp75 ribu per acara. Uang itu digunakan untuk membiayai transportasi, make up dan konsumsi.

"Pertama kali ikut lomba tari Aceh sangat berkesan. Kami fokus latihan dan merelakan waktu les dan main kami, termasuk watu bermain gadget. Demi tarian ini," sahut Safira.

Safira mengatakan saat ini ekskul yang mefokuskan tari tradisi asal Aceh sudah menjadi tren di berbagai sekolah negeri maupun swasta.

"Tarian Aceh enggak harus gemulai dan berpakaian terbuka. Cuma menggerakan tangan da tubuh. Makanya saya tertarik ikut ekskul ini," ungkap gadis yang mengenakan hijab itu.

Almuniza mengisahkan, Aceh dikenal sebagai sebuah bangsa yang besar dengan kebudayaan, perekonomian, perpolitikan hingga dikenal pula sebagai daerah penyebar agama Islam di Asia Tenggara.

Misalnya, ketika Sultan Aceh, Sultan Alauddin Al Mukamil mengutus Abdul Hamid ke Belanda untuk mengetahui seluk beluk kepemerintahan Belanda waktu itu. Sebab tersebar kabar pada saat itu bahwa Belanda sebuah negara.

Karena itu, Abdul Hamid diputuskan untuk berangkat ke negeri kincir angin tesebut dan sampai pada Agustus 1602.

Namun, kabar yang tersebar tersebut tidak benar adanya. Ketika Hamid sampai di Belanda, dia sempat ikut ke dalam area peperangan yang pada waktu itu Belanda sedang berhadapan dengan Spanyol dan menguras semua sumberdaya negara itu. Abdul Hamid, melalui kerajaan Aceh kala itu diminta oleh Pangeran Maurits, pendiri dinasti Oranje untuk membantu mereka.

"Artinya, diplomasi Aceh sejak dulu telah berjalan dengan sebagaimana mestinya dan begitu luhur. Sebab Aceh juga berperan dalam berbagai hal baik itu budaya, politik, dan ekonomi," ujar Almuniza.

baca juga: 10 Dokter Peneliti Meraih Anugerah Karya Cipta Dokter Indonesia

Demikian juga dengan Festival Ratoh Jaroe 2019 yang memperebutkan piala bergilir dari Gubernur Aceh.

"Diharapkan kegiatan ini dapat mempersatukan berbagai elemen masyarakat, memperkuat dan menanamkan nilai-nilai kebudayaan kepada peserta," pungkas Almuniza. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT