27 October 2019, 10:37 WIB

Bangun Jalan Menuju Mata Air dengan Dana Desa


Palce Amalo | Nusantara

MI/Palce Amalo
 MI/Palce Amalo
Warga desa sedang mencuci pakaian di mata air Aegeru di Desa Tedakise, Kacamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

MATA Air Aegeru di Desa Tedakise, Kacamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi satu-satunya harapan warga di musim kemarau saat ini. Mata air yang berjarak sekitar 1,7 kilometer dari permukiman penduduk ini memang tidak pernah kering di musim kemarau. Setiap pagi dan sore, warga desa terutama perempuan dan anak-anak membawa jeriken dan ember pergi ke Aegeru untuk mengambil air bersih dan mandi.

Untuk mencapai Aegeru, warga berjalan kaki melewati jalan setapak yang melingkar di punggung bukit, sebelum tiba di sumber air yang terletak di lembah.

"Masyarakat punya sumur tetapi sudah kering. Ada juga embung tetapi airnya keruh, hanya untuk minuman ternak," kata Maria Destiana Sole, warga Desa Tedakise, Minggu (27/10).

Menurut Maria, selama bertahun-tahun, terutama saat kemarau, warga Tedakise yang berjumlah 1.098 orang selalu mengalami krisis air bersih. Krisis air melanda lantaran sumur air minum di pusat desa mengering. Karena itu, Mata Air Aegeru terletak di kawasan hutan itu pun rutin didatangi warga setiap hari untuk mengambil air.

"Kami sudah terbiasa setiap hari menuruni bukit pergi ambil air, pulang berjalan menanjak dengan beban air di bahu," ujarnya.

Namun sejak 2018, jalan setapak yang sering dilewati warga itu mulai diperlebar menjadi tiga meter.

"Pembangunan jalan mengunakan dana desa, dan pekerjanya warga," kata Kepala Desa Tedakise Ignasius Laki.

Menurutnya pekerjaan pertama pada 2018 menggunakan urugan pilihan (urpil) sejauh 920 meter menghabiskan anggaran Rp128 juta. Sisanya sekitar 150 meter akan dilanjutkan pada 2020 mengunakan rabat beton dengan anggaran sekitar Rp100 juta. Ignasisus mengatakan pihaknya memilih rabat beton untuk mengantisipasi longsor pada musim hujan. Hal itu disebabkan tingkat kemiringan jalan sekitar 30 derajat. Setelah jalan selesai dibangun, menurut Ignasius, warga menggunakan sepeda motor menuju sumber air.

"Kalau bawa air dengan berjalan kaki, paling dua jeriken ukuran lima liter, tetapi membawa air dengan sepeda motor bisa lebih banyak,"
katanya.

baca juga: Klaten Targetkan Piala Adipura 2019

Dia pun berharap pemerintah kabupaten membantu warga mengalirkan air mengunakan bantuan pompa ke permukiman penduduk atau mengaspal jalan tersebut.

"Kalau jalan sudah diaspal oleh pemerintah, otomatis pengangkutan air menjadi lancar," ujarnya. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT