27 October 2019, 09:45 WIB

PM Abiy Memperingatkan Kerusuhan di Ethiopia Bisa Memburuk


Melalusa Susthira K | Internasional

AFP
 AFP
Kerusuhan di Ethiopia dipicu aktivis Jawar Mohammed (berjas biru) menuduh pasukan keamanan berusaha mengatur serangan terhadap dirinya. 

PERDANA Menteri Ethiopia Abiy Ahmed akhirnya angkat suara terhadap aksi protes yang meluas menjadi kerusuhan di Ethiopia sejak Rabu (23/10). Ia memperingatkan perihal bahaya ketidakstabilan jika terus berlanjut dan berjanji untuk mengadili mereka yang bertanggung jawab atas kerusuhan yang merenggut lebih dari 60 orang.

"Krisis yang kita hadapi akan menjadi lebih menakutkan dan sulit jika orang-orang Ethiopia tidak bersatu dan berdiri sebagai satu kesatuan. Kami akan bekerja dengan teguh untuk memastikan prevalensi aturan hukum dan membawa pelaku kejahatan ke pengadilan," ujar Abiy dalam pernyataan resminya, Sabtu (26/10).

Peraih Penghargaan Nobel Perdamaian 2019 itu juga mencatat bahwa protes yang awalnya dimulai terhadap pemerintahnya dengan cepat berubah menjadi bentrokan kekerasan antaretnis dan agama.

"Telah ada upaya untuk mengubah krisis menjadi masalah agama dan etnis. Dalam prosesnya kawan kami telah menjadi korban dalam keadaan yang mengerikan," tuturnya.

Lebih lanjut Abiy menunturkan banyak rumah, tempat usaha, hingga tempat ibadah yang hancur dalam kerusuhan, dan membuat sejumlah besar warga Ethiopia terlantar.

Protes yang berkahir rusuh tersebut meletus di ibukota Ethiopia, Addis Ababa dan wilayah Oromia sejak Rabu (23/10). Kerusuhan juga dilaporkan terjadi di kota-kota besar seperti Dodola, Harar, Balerobe, dan Adama.

Protes tersebut dipicu setelah aktivis Jawar Mohammed, menuduh pasukan keamanan berusaha mengatur serangan terhadap dirinya, meskipun pejabat polisi Ethiopia membantahnya.

Jawar yang merupakan mantan sekutu PM Abiy dan sama-sama anggota kelompok etnis Oromo yang terbesar di Ethiopia, baru-baru ini justru menjadi kritis terhadap beberapa kebijakan Abiy. Ia menuduh Abiy bertindak seperti diktator dan menantangnya dalam pemilihan umum yang dijadwalkan pada tahun depan.

baca juga: Mayoritas Korban dalam Truk di London Diduga Kuat WN Vietnam

Jumat (25/10) lalu, Kepala Polisi Oromia, Kefyalew Tefera, mengatakan sedikitnya 67 orang tewas di wilayah Oromia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5 di antaranya merupakan petugas polisi. Kefyalew menyebut banyaknya jumlah korban tewas disebabkan oleh bentrokan yang terjadi antara warga sipil. (AFP/OL-3)

 

BERITA TERKAIT