27 October 2019, 06:30 WIB

Batik dan Peradaban Kita


Sumaryanto Bronto | Weekend

Dok.MI/Hartanto Tan
 Dok.MI/Hartanto Tan
Juara 1 -- Sepenggal adegan dari musikal Malam & Tjanting On Stage, dari balik panggung

TERTIUP angin, keindahan kain batik itu makin mempesona. Dengan motif burung hong di atas latar berwarna merah, batik itu sekaligus menceritakan perpaduan budaya yang kaya di Tanah Air ini.

Warna merah dan motif burung itu menunjukkan pengaruh budaya Tionghoa dalam tradisi membatik kita. Memang, meski kita merasa yang paling memiliki batik di dunia ini, nyatanya teknik menggambar dengan lilin tersebut juga dikenal di banyak negara dan budaya. Bahkan, teknik itu dikatakan pula sudah ada sejak zaman Mesir Kuno.

Karena itulah ketika merayakan batik, sesungguhnya kita merayakan keragaman. Sekaligus pula, batik mengingatkan bahwa sebenarnya bangsa kita merupakan bangsa yang sangat menghargai keragaman itu.

Pasalnya, batik subur hingga kini. Tidak kurang kreasinya, baik pada motif-motif modern maupun motif tradisi, seperti burung hong tersebut.

Kekayaan peradaban itu pula yang terlihat pada puncak peringatan hari Batik Nasional, sekaligus sebagai peringatan Dasawarsa Batik sebagai Warisan Budaya oleh UNESCO, digelar meriah di halaman Kantor Kemendikbud, Rabu (2/10/2019) malam.

Selain ditampilkan dalam peragaan busana, batik dan perjalanan sejarahnya juga ditampilkan dalam drama musikal dengan judul Malam dan Tjanting.

Semarak suasana malam itu diabadikan pula dalam Lomba Foto on the Spot yang merupakan hasil kerja sama Komunitas Fotografi Media Indonesia, Dari Balik Lensa, dengan Direktorat Warisan Budaya Takbenda, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Pemenang pertama ialah foto yang menampilkan keindahan batik burung hong berlatar merah. Juara kedua, jatuh pada karya yang menampilkan keindahan motif batik di bawah bayangan siluet seorang perempuan, sedangkan juara ketiga jatuh pada karya yang menampilkan kibaran batik dan sosok seorang penari pria. (M-1)

BERITA TERKAIT