27 October 2019, 06:05 WIB

Susi Susanti dan Sikap Diskriminatif Kita


Fathurrozak | Hiburan

DOK. WWW.IMDB.COM
 DOK. WWW.IMDB.COM
Susi Susanty

SUSI Susanti: Love All tidak sekadar menyandarkan pada biopik legenda bulu tangkis Susy Susanti. Lebih dalam, menyorot lensa sejarah diskriminasi terhadap etnik Tionghoa di Indonesia. Film yang hangat sekaligus penting.

Momen bersejarah tatkala ia meraih medali emas perdana bagi Indonesia pada ajang Olimpiade Barcelona 1992 itu, tentu yang paling banyak diingat sebagai memori kolektif. Termasuk saya yang bahkan tidak merasakannya pada zaman itu. Toh foto Susy yang berlinang air mata, atau nukilan videonya saat Indonesia Raya berkumandang yang melintas zaman merupakan keping bersejarah bagi bangsa kita.

Yang tidak diketahui oleh kebanyakan, mungkin saja setinggi apa pun prestasinya, Susy tetaplah dianggap bukan sebagai warga ­Indonesia ‘seutuhnya.’ Ia, yang keturunan Tionghoa tetap harus direpoti dengan segala tetek bengek berkas kependudukan. Meski ber­kali-kali mendatangkan medali, ia tetap harus memiliki SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik ­Indonesia).

Film feature perdana sutradara Sim F yang ditulis Syarika ­Bralini dengan tepat menangani film biopik ini bukan sekadar euforia nasionalisme.
Karena itu, biopik ini menjadi penting sebagai catatan sejarah bangsa kita yang diskriminatif. Sim tidak hanya mengarah pada momen-momen lini masa di lapangan, tetapi ia juga secara tebal memasukkan sensibilitas isu yang sampai saat ini masih relevan. Tentang bagaimana perilaku diskriminatif juga masih kerap dilakukan, bukan saja ­antarindividu, melainkan kerap kali oleh sekelompok massa, atau bahkan penyelenggara negara.

Saya teringat film Edwin yang rilis setelah satu dekade dari 1998, Babi Buta yang Ingin Terbang (Blind Pig Who Wants to Fly). Yang secara kebetulan juga kedapatan mempertontonkan adegan tayangan bulu tangkis di televisi. Ketika itu, tunggal putri Verawati yang berhadapan dengan pemain Tiongkok. Lalu muncul pertanyaan dari seorang anak kepada ibunya, “Yang Indonesianya yang mana, Ma?”

Film itu secara pendekatan personal, menyoroti bagaimana laku hidup orang-orang yang dianggap minoritas. Mereka yang dianggap ‘tidak utuh’ keindonesiaanya karena ras mereka. Sim berhasil membawa muatan ini dengan cakupan yang lebih mudah diterima penonton melalui jalan hidup Susy Susanti. Fokus yang disorot, bahkan bukan hanya Susy, secara luas juga menyoroti nasib para keturunan etnik Tionghoa dalam mengupayakan hak hidup sebagai warga negara. Termasuk pelatih Susy, Liang Tjiu Sia, dan pelatih tim putra di pelatnas Tang Xianhu (Tong Sinfu).

Sesuai porsi

Bicara kehidupan Susi Susanty tentunya tidak lengkap tanpa menghadirkan romansanya dengan Alan Budikusuma. Apalagi merekalah yang mengawinkan medali emas Olimpiade kala itu.

Kerap kali, film-film berlatar sejarah tergelincir dengan fokus kisah roman asmara. Namun, Love All menaruh porsi yang sesuai. Drama asmara Susi dan Alan ditaruh dengan pas dan tidak berlebihan, justru menjadi medium yang cerkas dalam memberikan sentuhan kejenakaan. Menjadikan film ini bukan hanya penting secara konteks sejarah, melainkan juga hangat untuk dinikmati.

Secara visual, Sim yang sebelumnya lebih sering menggarap video komersial, seperti iklan, juga video musik, memberi sentuhan pada film feature-nya kentara dengan warna visual yang kuat. Misalnya saja pada palet warna yang dipilih untuk merepresentasikan zaman 1980-an, pilihan wardrobe, dan latar ikonik untuk menghidupkan era lampau seperti mendengarkan koleksi musik di toko kaset.

Hanya ada beberapa catatan minor. Misalnya saja beberapa aksen dan logat Sunda yang kurang meyakinkan dari beberapa pemeran, atau latar saat di Barcelona yang malah sepintas mirip di sudut Museum Bank Indonesia di Kota Tua.

Susi Susanti: Love All merupakan refleksi yang tetap kontekstual dengan kehidupan masyarakat kita hingga saat ini. Ketika luka yang dihadirkan negara--dengan gagal menjamin hak hidup yang setara, bahkan bagi mereka yang telah mengharumkan nama ­negeri--­kian dikoyak oleh sikap diskriminatif sesama anak bangsa. Sampai kapan kita akan membiarkan itu? (M-2)

BERITA TERKAIT