26 October 2019, 19:50 WIB

BMKG: Kabut Asap di Palembang Kiriman dari OKI


Dwi Apriani | Nusantara

MI/Dwi Apriani
 MI/Dwi Apriani
 Kabut Asap di Palembang Kiriman dari OKI

DAMPAK asap kebakaran hutan dan lahan di Kota Palembang, Sumatra Selatan, disebabkan masih tingginya suhu di kawasan Palembang dan sekitarnya.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mencatat suhu udara di kawasan Palembang sepanjang Oktober rata-rata mencapai 36,2 derajat Celcius. Sementara suhu terendah terjadi di Februari yang mencapai 34,2 derajat Celcius.

Kondisi ini menyebabkan terjadinya kebakaran di sejumlah kawasan terutama di selatan wilayah Sumsel seperti di Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I BMKG Palembang, Nuga Putrantijo, mengatakan, kondisi udara di wilayah Sumsel sangat dipengaruhi oleh kondisi anomali udara di Samudra Pasifik dan Hindia.

Sejumlah badai yang ada di kedua samudra tersebut seperti El Nino dan La Nina kondisinya saat ini masih normal. Hanya saja, kondisi muka air laut biru atau dingin. Sehingga, penguapannya kecil. Akibatnya massa uap air di udara berkurang.

"Pembentukan awannya masih sedikit karena suhu muka air laut tetap dingin. Kondisinya membuat wilayah di sebelah Selatan Indonesia tetap mengering. Seperti di kawasan Sumsel, Lampung dan sebagian Pulau Jawa," terangnya.


Baca juga: Tanggap Darurat Karhutla Sumsel Diperpanjang Hingga 10 November


Ia menjelaskan Kota Palembang dan Kabupaten OKI saat ini mengalami 30 Hari Tanpa Hujan (HTH). Sehingga kondisi ini memicu kekeringan di lahan gambut serta menimbulkan karhutla, terutama di kawasan OKI.

"Embusan angin dari timur ke tenggara membawa asap kebakaran yang terjadi di OKI menuju ke Palembang," bebernya.

Nuga mengatakan, kondisi cuaca tersebut membuat adanya kemunduran masa musim hujan yang tadinya diprediksi terjadi di Dasarian I mundur ke Dasarian III Oktober.

"Jadi prediksinya hujan baru terjadi di akhir Oktober sekitar 27 hingga 30 Oktober atau di Dasarian I November sekitar 1 November. Potensi awan di tanggal tersebut harus dimanfaatkan untuk hujan buatan," ucapnya.

Ia mengatakan, puncak musim hujan akan terjadi di awal Januari hingga Maret. Wilayah Sumsel yang mulai turun hujan dimulai dari utara. Mulai dari Kabupaten Muratara dan mengarah ke wilayah Bukit Barisan seperti Lahat, Muara Enim, Empat Lawang, dan wilayah lainnya.

"Setelahnya akan berlangsung merata di seluruh wilayah Sumsel. Tapi, BPBD juga harus mengantisipasi terjadinya bencana banjir," tandasnya. (OL-1)

 

BERITA TERKAIT