27 October 2019, 03:20 WIB

Melepas Penat Sesaat di Tuksongo


MI | Weekend

Dok. MI
 Dok. MI
Tuksongo

BERWISATA ke Magelang, Jawa Tengah, tak afdol bila tidak bermalam di Tuksongo. Apalagi, kalau memang penasaran berburu matahari terbit.

Desa Wisata Tuksongo, di Keca­matan Borobudur, berjarak sekitar 2 km dari kompleks Candi Borobudur. Berada di antara kebun tembakau dan lapangan terbuka, ada kesan tersendiri saat tiba di kawasan ini. Suasananya tenang dan udaranya segar. Areanya yang terbuka pas bagi anak-anak untuk berlari dengan bebas.

Tuksongo memiliki tiga bagian. Bagian paling depan merupakan balai ekonomi desa (balkondes) dengan desain joglo. Detail-detail ukiran Jawa pun terlihat di bangunan joglo ini, termasuk di kursi-kursinya. Di sini tidak semata dijadikan front desk homestay, tapi juga tempat kegiatan masyarakat desa.

Bangunan kedua yang terletak di belakang balkondes ialah amphitheater, yang digunakan untuk pertunjukan. Bulan lalu, kawasan ini dijadikan lokasi pertunjukan Balkonjazz selama tiga hari.

Nah, di belakangnya terdapat sejumlah bangunan joglo yang lebih kecil sebagai tempat homestay. Ada tiga kategori, untuk single, couple, maupun family room. 

Sepintas nama Tuksongo menarik perhatian. Ternyata nama itu diambil dari nama samaran Kiai Ahmad Abdussalam dari keraton Surakarta. Beliau merupakan murid dari Pangeran Diponegoro yang juga ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Bicara Pangeran Diponegoro, desa ini tidak jauh dari kawasan Bukit Menoreh alias jalur pelarian Pangeran Diponegoro selama perang gerilya.  


Dikelola masyarakat

Desa wisata Tuksongo ini termasuk satu dari 20 desa balkondes binaan BUMN. Kegiatan balkondes ini diinisiasi BUMN pada 2016 setelah melihat banyak desa di sekeliling Borobudur bergelut kemiskinan.

“Padahal di sini ada (Candi) Borobudur yang dikelola BUMN. Ini jadi pertanya­an, kenapa belum beri manfaat bagi masyarakat di sekitar Borobudur?” ujar Direktur PT Manajemen CBT Nusantara (MCN), Jatmika Budi Santoso, kepada wartawan di Tuksongo, beberapa waktu lalu.

Akhirnya diputuskan satu desa men­dapatkan satu sponsor BUMN untuk dikembangkan. Jadi, desa tidak semata mendapat bantuan, tapi juga belajar untuk memberdayakan sumber perekonomian mereka sendiri.

Setiap desa memiliki ciri khas dalam memanfaatkan kemampuannya. Di Tuksongo terdapat sejumlah kegiat­an untuk pengunjung. Seperti wisata dengan VW, kesenian topeng kawedar, atau sekadar berjalan-jalan di kebun tembakau.

Meski secara penampilan kawasan ini menarik, kebersihan dalam hotel masih agak kurang. Misalnya ada pojok yang masih terdapat sarang laba-laba dan seprei yang sedikit berdebu. Ada kamar yang tersedia sandal, ada juga yang tidak. Selain itu, jika tak waspada menaruh barang, salah-salah bisa dikerubungi semut.

Namun, menginap di Tuksongo cukup memberi kesegaran. Apalagi harga yang ditawarkan cukup terjangkau, mulai dari harga Rp350 ribu untuk single room hingga Rp500 ribu untuk family room. (Rin/M-2)

BERITA TERKAIT