27 October 2019, 03:00 WIB

Berburu Matahari Terbit di Magelang


Thalatie K Yani | Weekend

MI/Thalatie K Yani
 MI/Thalatie K Yani
Berburu Matahari Terbit di Magelang

HARI masih gelap gulita, dan jarum jam masih di angka 04.30 WIB. Namun, kawasan pintu 8 Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, sudah ramai dengan pengunjung. Dengan hati-hati mereka berjalan menuju Manohara Restaurant yang tampak terang benderang.

Sesampai di restoran, ada petugas yang sigap membagikan tiket yang sudah dibeli. Tidak hanya tiket, ada stiker yang harus digunakan dan senter. Kadang, bila cuaca tidak bagus, jas hujan turut dibagikan.

“Hari ini kita tidak bagikan jas hujan, karena cuaca cukup cerah dan tidak akan hujan,” ujar Ahmad Latif, pemandu wisata yang bertugas.
Dari guest house, orang-orang berjalan sekitar 100 meter ke arah Candi Borobudur. Namun tidak langsung ke candi, rombongan harus melalui gate check dengan memperlihatkan tiket dan harus memasang stiker di baju.

Setelah pemeriksaan, mereka kemudian melintasi lapangan candi sekitar 100 meter. Berteman suara jangkrik yang riuh, mereka berjalan dengan penerang­an senter. Banyak di antaranya tampak merapatkan jaket, menghalau embusan angin pagi yang masih terasa dingin. 
Sekian orang tersebut punya satu tujuan. Menuju pucuk Candi Borobudur. Menunggu fajar pecah oleh matahari terbit. 

Menurut Latif, kebanyakan pengunjung yang menyaksikan matahari terbit itu berasal dari mancanegara. Dengan bersemangat, mereka menapaki 118 anak tangga menaiki candi menuju pelataran atau teras yang paling atas.

“Matahari akan terlihat di arah timur, di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Mataharinya sendiri baru muncul sekitar pukul 05.39 WIB,” ujar Latief.

Untuk menyaksikan matahari terbit di sini, pengunjung harus duduk di sela-sela stupa. Jadi sebaiknya berhati-hati karena tempatnya terbatas.
Sayangnya, terbitnya matahari di kawasan ini selalu diikuti dengan kenaikan kabut putih, sehingga tak jarang para pemburu ‘sunrise’ itu hanya bisa melihat guratan-guratan warna merah kekuningan yang perlahan naik dari balik kabut. 

Meski begitu, pemandangan warna matahari terbit dan candi tetap menarik untuk diabadikan dalam foto atau video. Pemandangan matahari terbitnya pun baru terlihat sekitar pukul 7 pagi.

Tidak semata melihat matahari terbit, kita pun bisa belajar sejarah tentang candi umat Buddha ini. Candi ini memiliki sembilan lantai dengan tiga tingkatan yang berbeda. Tingkat pertama kamadhatu (ranah hawa nafsu), kedua rupadhatu (ranah wujud), dan arupadha­tu (ranah tidak berwujud).

Di enam lantai pertama, dinding candi ini dihiasi dengan 2.672 panel relief yang memiliki cerita perjalanan Buddha menuju nirwana. Adapun di tiga tingkat di atas ada 72 stupa dengan lubang. Di dalamnya terdapat arca Buddha dengan posisi tangan yang berbeda. Tepatnya ada 8 posisi tangan dengan makna masing-masing.

Selain itu pun setiap stupa memiliki jendela yang berbeda. Di tingkat 7-8, jendela stupa berbentuk wajik, sedangkan di puncak candi berbentuk kotak. “Kotak itu sebagai nirwana yang merupakan simbol kesempurnaan,” ujar Latif.

“Borobudur ini tidak hanya tempat sembahyang, tapi merupakan universitas. Setiap relief memiliki memiliki pendidikan yang diajarkan,” lanjut Latif.

Berbicara stupa di Candi Borobudur, ada satu stupa yang selalu ramai dicari pengunjung. Namun, Latif mengungkapkan saat ini stupa tersebut tidak boleh lagi dipanjat ataupun dirogoh ke dalam. Pasalnya, pascagempa beberapa tahun lalu yang menyebabkan kerusakan parah, pihak pengelola melarang pemanjatan stupa guna menjaga kelestarian patung.

Ya tidak salah lagi, kawasan candi ini mengalami beberapa kali restorasi, termasuk yang dilakukan UNESCO. Guna menandai batu hasil restorasi dan yang asli ialah dengan titik putih yang ada tepat di tengah batu.

Setelah menyaksikan matahari terbit dan kembali turun dari candi, jangan lupa mengembalikan senter. Untuk menikmati matahari pagi dari kawasan candi, wisatawan lokal dikenai biaya Rp350 ribu dan wisatawan asing Rp475 ribu. Harga tersebut sudah termasuk sarapan, suvenir berupa kain batik, dan tiket masuk Candi Borobudur pukul 04.30 WIB--sebelum dibuka untuk umum.


Punthuk Setumbu

Bila menyaksikan matahari terbit di Borobudur terlalu mahal. Ada alternatif lain yang cukup ramah di kantong. Cukup membayar Rp20 ribu, Anda bisa masuk ke Punthuk Setumbu di Kelurahan Karang­rejo, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Namun berbeda dengan Borobudur yang sudah dikelola secara profesional, kawasan ini dikelola masyarakat desa. 

Dari pos penjualan tiket, ada jalan setapak sekitar 500 meter melalui rumah-rumah warga. Jalan yang dilalui lumayan menan­tang bagi mereka yang kurang fit. Pasalnya, jalan sedikit menanjak dan ada beberapa titik disediakan tangga. 

Di puncak bukit, ada area menyerupai teras yang menjorok. Pemandangannya cukup menarik. Ada gereja ayam, Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon. Dilatari dengan Gunung Merapi, ketiga candi itu tampak kecil dan menarik perhatian. 

Sayangnya, selalu ada risiko kabut tebal yang membuat  matahari terbit tidak langsung terlihat jelas. Matahari baru terlihat jelas sekitar pukul 06.30.

Menariknya di kawasan ini tersedia sejumlah spot untuk berfoto. Jadi pas bagi Anda yang suka foto instagramable. Nah, Anda mau melihat matahari terbit dari kawasan mana? (M-2)

BERITA TERKAIT