26 October 2019, 16:20 WIB

Tanggap Darurat Karhutla Sumsel Diperpanjang Hingga 10 November


Dwi Apriani | Nusantara

Antara
 Antara
Pemadaman kebakaran lahan di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, menggunakan helikopter MI8, beberapa waktu lalu. 

PEMERINTAH Provinsi Sumatra Selatan memperpanjang masa tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Yang semula status ditetapkan 1 Maret-31 Oktober 2019, kini diperpanjang menjadi 1 Maret-10 November 2019.

Hal ini menyusul prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) masa musim kemarau mundur hingga 3 dasarian.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Iriansyah mengatakan dimundurkannya masa waktu status tanggap darurat karhutla dilakukan agar pemerintah pusat tidak menarik dukungan bantuan peralatan maupun personel yang ada di Sumsel. Sehingga penanganan karhutla di Sumsel tetap berjalan hingga masuk masa musim hujan.

"Tadinya hujan diprediksi terjadi di dasarian I Oktober. Tapi rupanya ada perubahan prediksi. Dimana hujan baru turun di dasarian III atau akhir Oktober hingga awal November. Makanya kita putuskan masa tanggap darurat diperpanjang," kata Iriansyah.

Iriansyah menuturkan perpanjangan tersebut membuat operasi pemadaman di kawasan yang terbakar terus berlanjut. Sebanyak 14 ribu personel gabungan masih tetap disiagakan di 9 kabupaten kota rawan karhutla. Belum lagi ditambah 1.030 pasukan yang khusus menangani karhutla di OKI.

"Jadi yang dikerahkan sekitar 15 ribu pasukan. Terdiri dari berbagai unsur seperti TNI, Polri, BPBD Provinsi dan kabupaten/kota, Manggala Agni, masyarakat peduli api, BNPB serta berbagai unsur lainnya," ujarnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Iriansyah (kedua kiri) menjelaskan perpanjangan masa tanggap darurat bencana di Sumsel. (MI/Dwi Apriani)

Dijelaskannya, helikopter water bombing saat ini dipusatkan untuk memadamkan api di kawasan yang terbakar hebat. Seperti di kawasan OKI. Ada 4 wilayah yang memang cukup rawan karhutla yakni Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Musi Banyuasin, dan Banyuasin. Sehingga helikopter difokuskan untuk pemadaman di 4 kawasan tersebut.
 
"Bahkan kami mengusulkan bantuan 1 unit helikopter lagi ke pemerintah pusat untuk melengkapi 9 helikopter yang beroperasi saat ini. Selain itu ada dua pesawat yang melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang terus mengupayakan pembentukan hujan," terangnya.

Baca juga: Ditanya Kans Jadi Wantimpres, Jusuf Kalla: Enggaklah

Iriansyah menjelaskan proses pemadaman cukup sulit dilakukan akibat kemarau tahun ini yang cukup ekstrem. Sehingga mudah sekali terjadinya karhutla dan membuat titik hotspot meningkat. "Proses pemadaman sudah dilakukan siang dan malam oleh petugas. Hanya saja, kondisi cuaca yang panas serta angin kencang membuat karhutla terus meluas," ungkapnya.

Petugas juga kesulitan mendapatkan air karena cuaca panas membuat sekat embung yang menyuplai air untuk pemadaman mulai berkurang. "Saat mau ambil air, tidak ada. Harapannya dari TMC bisa mendatangkan hujan. Tapi karena kondisi awan tidak tersedia, hasil penyemaian garam belum bisa maksimal," tandasnya. (X-15)
 

BERITA TERKAIT