26 October 2019, 23:30 WIB

Fakta-fakta Mengenai Penyakit Autoimun


Raka LestariĀ  | Humaniora

Ilustrasi
 Ilustrasi
Penyakit Autoimun

SISTEM kekebalan tubuh atau sistem imun berfungsi untuk membantu melawan virus dan bakteri yang masuk ke dalam tubuh. Namun sayangnya, sistem kekebalan tubuh justru bisa menyerang tubuh kita sendiri.
 
Penyakit tersebut disebut dengan penyakit autoimun. Lalu, apakah yang menyebabkan terjadinya penyakit autoimun tersebut?
 
“Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel dan jaringan tubuh sendiri,” ujar Daniela Cihakova, MD, PhD, seorang ahli imunologi di Johns Hopkins University.

Menurut National Institute of Arthritis dan Musculoskeletal and Skin Diseases (NIAMS), hal ini dapat terjadi pada hampir semua bagian tubuh. Mulai dari otak hingga otot, kulit, dan organ lainnya.


Sering terjadi pada wanita usia muda

Dr Cihakova mengatakan sekitar 80 persen pasien dengan penyakit autoimun adalah wanita. Wanita memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap penyakit autoimun ketimbang pria.
 
"Dan memang penyakit autoimun masuk ke dalam 10 penyebab utama kematian bagi wanita,” ujar Emily Somers, PhD, seorang ahli epidemiologi di University of Michigan’s School of Public Health.
 
“Selama bertahun-tahun hormon estrogen yang terdapat pada wanita penyebabnya, namun baru-baru ini ditemukan bahwa faktor genetik yang berkaitan dengan kromosom X mungkin terlibat,” ujar Dr Somers.
 
Perempuan memiliki dua kromosom X, sementara pria hanya memiliki satu. Kromosom X dapat memberikan "dosis" X ekstra yang dapat membuat wanita lebih rentan terhadap kondisi kesehatan tertentu.


Faktor lingkungan bisa menjadi pemicunya

“Pertumbuhan yang sangat cepat pada lingkungan bisa menjadi faktor yang memengaruhi penyakit autoimun pada seseorang,” ujar Dr Cihakova.
 
Faktor lingkungan mulai dari radiasi ultra violet, bahkan sampai produk-produk pembersih dan cat kuku juga dapat berperan.
 
Sementara Dr. Somers mengatakan kalau Debu silika yang bersal dari bebatuan kuara, granit, dan mineral lainnya dan merokok, merupakan dua faktor risiko penyakit autoimun.
 
Sebuah penelitian dari University of Michigan menemukan bahwa, merkuri yang terdapat dalam swordfish, tuna, salmon dan makanan laut lainnya memiliki korelasi dengan autoimuntias yang tinggi. Meski begitu kandungan merkuri tersebut masih dalam batas aman.


Faktor gaya hidup dapat mencegahnya

Hubungan antara sistem pencernaan, diet sehat yang kaya akan buah, dan sayuran dapat menjadi salah satu cara mencegah kondisi autoimun. Diet dan keseimbangan berat badan yang seimbang adalah kuncinya.
 
Selain itu Dr. Cihakova juga merekomendasikan untuk melakukan olahraga, karena dapat mencegah kelelahan yang melemahkan yang sering dikaitkan dengan penyakit autoimun.
 
Sementara itu Dr. Somers menyarankan untuk mendapatkan cukup vitamin D dan omega-3. Keduanya terbukti memiliki efek perlindungan terhadap kondisi autoimun.  (Medcom/OL-11)

BERITA TERKAIT