26 October 2019, 06:50 WIB

Kontribusi Penyebab Kecelakaan saling Berkaitan


MI | Megapolitan

ANTARA
 ANTARA
Ketua Umum KNKT Soerjanto

SETELAH hampir setahun melakukan investigasi, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memastikan ada sembilan penyebab kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 yang terjadi pada 29 Oktober 2018. Pesawat itu berencana terbang dari Jakarta menuju Pangkal Pinang.

"Tidak ada penyebab utama atau fatal yang mengakibatkan kecelakaan terjadi. Kesembilan faktor itu memiliki keterkaitan. Kami sebut kontribusi kecelakaan karena apabila kontribusi ini dapat dihindari, kemungkinan kecelakaan tidak terjadi," jelas Ketua Umum KNKT Soerjanto saat jumpa pers, di Jakarta kemarin.

Pada acara itu hadir pula Kapten Nur Cahyo Utomo dari KNKT. Ia pun memaparkan bahwa kerusakan indikator kecepatan dan ketinggian di pesawat PK-LQP terjadi pertama kali pada 26 Oktober 2018 dalam penerbangan dari Tianjin, Tiongkok ke Manado, Indonesia.

Setelah beberapa kali perbaikan pada kerusakan yang berulang, angle of attack (AOA) sensor kiri diganti di Denpasar, Bali. AOA sensor kiri tersebut diketahui mengalami deviasi sebesar 21 yang tidak terdeteksi pada saat diuji setelah pemasangan.

Hal itu, menurut Nur Cahyo, mengakibatkan perbedaan penunjukkan ketinggian dan kecepatan antara instrumen kiri dan kanan sehingga mengaktifkan stick shaker dan maneuvering characteristics augmentation system (MCAS) pada penerbangan dari Denpasar ke Jakarta.

Sembilan poin kontribusi kecelakaan yang saling berkaitan itu, lanjutnya, di antaranya, pertama, asumsi terkait reaksi pilot yang dibuat pada saat proses desain dan sertifikasi pesawat Boeing 737-8 (MAX) dinilai tidak tepat, meski sudah sesuai dengan referensi.

Kedua, sensor tunggal yang diandalkan untuk MCAS dianggap cukup dan memenuhi ketentuan sertifikasi. Sementara itu, di lapangan masih ada kajian mengenai kemungkinan efek-efek lain yang terjadi di kokpit.

Faktor ketiga, sistem sensor tunggal itu rentan terhadap gangguan lain. "Proses investigasi menemukan bahwa desain dan sertifikasi fitur itu tidak memadai. Pun pelatihan dan buku panduan untuk pilot tidak memuat informasi terkait MCAS.

Keempat, pilot diduga mengalami kesulitan merespons secara tepat pergerakan MCAS yang tidak seharusnya terjadi. Situasi seperti itu tidak ada petunjuk dalam buku panduan dan pelatihan. Kelima, tidak tersedianya AOA 'disagree' di pesawat Boeing itu. (Hld/X-7)

BERITA TERKAIT