26 October 2019, 05:40 WIB

Abdul Kadir Usaha yang tidak Mengkhianati Hasil


(Try/M-4) | Weekend

  MI/PIUS ERLANGGA
  MI/PIUS ERLANGGA
Abdul Kadir 

LAHIR dari buruh tani, sejak kecil dia harus berjuang untuk bertahan hidup. Pria asal Pamekasan Madura ini kini bisa menjadi asisten profesor di Universitas Indonesia. Dia adalah penerima beasiswa dari Universitas Indonesia untuk jenjang S-1 dan National University of Ireland untuk gelar masternya.

Sewaktu kecil keluarganya menanam tanaman tembakau di tanah milik orang. Ayah ibunya hanya lulusan SD dan dia menjadi satu-satunya anak yang berpendidikan S-2 di antara tujuh saudaranya yang tidak bersekolah.

Selama berkuliah, dia tetap berjualan rengginang yang dia bawa dari kampung untuk dijual di kampus. Sewaktu kecil dia tinggal di gubuk yang kecil, dengan lantai tanah, lalu tidur beralaskan bambu dan tikar.

Selain menjadi buruh tani, ibunya beternak sapi dengan patungan bersama tetangga. Abdul Kadir turut bekerja mengumpulkan barang-barang bekas untuk setidaknya memiliki tabungan.

Karena merasakan kesulitan, dia merasa harus mengubah nasib keluarga, salah satunya pendidikan. Ayahnya berpesan minimal ada satu orang yang bisa mengubah nasib keluarga dengan pendidikan. Terlebih melihat sang ibu yang harus meminjam uang sana-sini untuk memenuhi kebutuhan.

"Itu yang membuat saya semakin bersemangat untuk mendapatkan beasiswa. Salah satunya saat SMA saya merasa berat untuk membeli seragam dengan harga sekitar Rp400 ribu-Rp500 ribu. Ibu saya sampai menjual sapi. Saya membaca pendidikan adalah senjata terkuat. Dari situ saya terpacu bagaimana mengubah hidup dengan pendidikan," cerita Abdul Kadir pada Acara Kick Andy, kemarin.

Dengan prestasinya yang didapatkan saat SMA, dia mencari tahu bagaimana mendapatkan universitas dan mahasiswa untuk pendidikannya. Setelah konsultasi dan mendapatkan undangan dari Universitas Indonesia, dia mendapat beasiswa bidikmisi.

Selama kuliah dia turut berjualan rengginang di koperasi mahasiswa selama 3,5 tahun. Ini disebabkan karena dia menghitung biaya hidup di Depok jauh lebih mahal daripada di Madura, sedangkan uang beasiswa tidak cukup untuk menutupi biaya hidup. Bahkan, dia sempat berbagi dua makanan dengan teman-teman seperjuangannya karena uangnya habis sebelum sampai akhir bulan.

Setelah lulus kuliah dia sempat bekerja di perusahaan migas selama setahun, kemudian melamar beasiswa S-2 LPDP. Dari 17 ribu orang dan biasanya 1.000 yang lulus. Dia melamar melalui jalur bidik misi yang memang memfasilitasi jalur untuk pada penerima bidikmisi. (Try/M-4)

BERITA TERKAIT