25 October 2019, 23:24 WIB

Wakil Ketua MPR Temui Penyintas Kanker Payudara di Jateng


Haryanto | Humaniora

Dok Yayasan Dharma Bakti Lestari
 Dok Yayasan Dharma Bakti Lestari
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (baju biru) menemui pasien penderita kanker di Rumah Sakit Ken Saras, Jumat (25/10)

WAKIL Ketua MPR RI yang juga pembina Yayasan Dharma Bakti Lestari, Lestari Moerdijat, mengunjungi Rumah Sakit Ken Saras dan Rumah Singgah Sahabat Lestari di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Jumat (25/10).

Kunjungannya kali ini dalam rangka bertemu dengan penyintas kanker payudara yang tergabung dalam Oncology Ken Saras Community (OKC).

Dalam kunjungannya, ia didampingi oleh anggota DPR RI Komisi IX dari Partai NasDem Sri Wulan dan Ketua DPW Partai NasDem Jawa Tengah Setyo Maharso.

Lestari atau yang kerap disapa Rerie, bertemu dengan para penyintas kanker payudara dan sempat mengunjungi salah satu pasien yang tengah menjalani kemoterapi.

Rerie juga berdiskusi dengan tim dokter onkologi dari Rumah Sakit Ken Saras. Dalam diskusinya, mereka membahas masalah-masalah seputar pasien dan regulasi saat berobat di rumah sakit ini.

Baca juga: Kanker tidak Bunuh Harapan dan Cinta

Di antaranya, persoalan membeludaknya pasien kanker sejak BPJS. Akan tetapi rumah sakit dan tenaga medis yang menangani belum bisa memadai.

Misalnya, untuk daerah pantai utara (pantura) Jawa, belum ada rumah sakit yang bisa menangani perihal kanker, terutama kanker payudara. Hanya ada lima rumah sakit di Jawa Tengah yang bisa menjadi rujukan dalam pengobatan kanker, yakni RS Tugurejo, RS Karyadi, RS Ken Saras, RS Margono, dan RS Moewardi.

Selain itu perihal regulasi dalam proses pengobatan juga masih menyulitkan para pasien yang ingin berobat.

Rerie juga sempat bercerita perihal dirinya yang divonis kanker payudara Her2 Positive pada akhir 2016. Menurutnya saat itu, hal yang paling penting adalah kecepatan dalam mengambil keputusan. "Saat saya divonis dokter kena kanker payudara, saya langsung bilang kapan bisa operasi. Saya enggak bilang dulu ke suami dan keluarga. Karena bagi saya kecepatan dalam mengambil keputusan di situasi ini sangatlah penting," katanya.

Pembina Komunitas Sahabat Lestari itu juga sempat berkunjung ke Rumah Singgah yang letaknya tidak jauh dari Rumah Sakit Ken Saras. Rumah Singgah Sahabat Lestari itu diperuntukkan bagi para pasien kanker terutama kanker payudara yang akan menjalani pengobatan di Rumah Sakit Ken Saras.

Hal ini dilakukan sebab rumah sakit belum bisa menampung seluruh pasien yang akan berobat, akibatnya pasien yang datang dari luar daerah tidak memiliki tempat tinggal sementara. Untuk itulah, Yayasan Dharma Bakti Lestari bersama Komunitas Sahabat Lestari mendirikan Rumah Singgah Sahabat Lestari.

Sejak peresmiannya pada 4 Oktober, Rumah Singgah Sahabat Lestari sudah kedatangan tiga pasien dari berbagai daerah. Mereka mendapatkan fasilitas menginap dan ambulans yang siap mengantarkan untuk berobat.

Bersama ibu-ibu dari OKC, Rerie berbagi cerita dan tips sebagai penyintas kanker. Menurutnya, menderita kanker bukanlah akhir dari segalanya. "Aktivitas sehari-hari tetap dilakukan, entah bekerja atau melakukan hobi asalkan tertib dalam menjalankan pengobatan. Patuhi perintah dokter," ujarnya.

Rerie juga tidak takut dengan kematian, sebab umur sudah ada yang mengatur. "Saya percaya, umur sudah ada yang mengatur, mau tersandung kerikil kalau sudah waktunya juga akan meninggal. Jangan sedih yang berlarut-larut dan jadi berhenti berobat. Harus tetap patuh, waktunya kontrol, ya kontrol. Kanker bukan akhir dari segalanya," terangnya.

Bagi Rerie menderita kanker turut menyadarkannya bahwa masih banyak orang yang sayang dan peduli terhadapnya. Ia juga berpesan kepada sesama penyintas untuk terus semangat menjalani pengobatan. "Saya tahu itu sakit dan melelahkan, saya pernah mengalaminya. Tapi ibu-ibu kita harus tetap kuat dan semangat. Kita punya keluarga dan anak-anak. Kita harus berjuang demi mereka," lanjutnya.

Rerie pun bercerita soal motto hidupnya saat ini, "Bagi saya penting untuk merayakan kehidupan dan berdamai dengan kematian. Itu adalah motto saya saat ini," jelasnya. (X-15)
 

BERITA TERKAIT