26 October 2019, 01:40 WIB

Panas Terik, Batasi Aktivitas di Luar Ruang


MI | Humaniora

ANTARA
 ANTARA
Panas Terik, Batasi Aktivitas di Luar Ruang

PEMERINTAH meminta masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan karena fenomena suhu panas di sebagian besar wilayah Indonesia masih akan berlanjut hingga sepekan ke depan.

"Kami mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar pada siang hari, terutama tanpa pelindung diri dari sinar Matahari," kata Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Miming Saepudin dalam temu media di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Jakarta, kemarin.

Saat ini, imbuhnya, posisi kulminasi Matahari diindikasikan sudah mulai menjauh dari wilayah Jawa dan sekitarnya. Diperkirakan, pertumbuhan awan hujan akan terbentuk pada awal November. Kehadiran awan itu penting karena dapat menyerap sinar Matahari yang masuk ke permukaan Bumi.

Imbauan yang sama diutarakan Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Achmad Yurianto. "Batasi eksposur sinar Matahari. Gunakan pelindung seperti topi atau payung," cetusnya.

Ia mengatakan, hal yang kerap terjadi pada tubuh saat suhu panas adalah keluarnya cairan tubuh dalam jumlah signifikan yang mengganggu fungsi tubuh normal (dehidrasi). Air dalam tubuh memiliki peran penting karena merupakan basis metabolisme tubuh yang menjalankan seluruh fungsi vital di darah maupun otak."Yang paling penting ialah menjaga air di dalam tubuh dengan cara minum cukup air untuk mencegah dehidrasi. Sebaiknya untuk kita yang usia dewasa dengan aktivitas normal sehari-hari, paling tidak 2,5 liter atau 3 liter harus masuk air," kata Achmad.

Kemenkes telah mencatat kenaik-an kasus yang terkait dengan perubahan cuaca yang juga meningkatkan populasi nyamuk dengan cepat. Jika nyamuk tersebut merupakan vektor penyakit, masyarakat diminta mewaspadai peningkatan kasus demam berdarah, cikungunya, dan malaria.

Selain itu, suhu panas yang disertai angin kencang saat kering juga akan menyebabkan partikel debu bertahan dan meningkatkan kasus gangguan pernapasan, diawali dengan alergi yang kemudian dapat memunculkan influensa like illness (ILI) hingga ISPA. (Rif/H-2)

BERITA TERKAIT