25 October 2019, 12:52 WIB

BMKG Sebut Fenomena Suhu Panas Hingga Sepekan ke Depan


Antara | Humaniora

MI/Deppy Gunawan
 MI/Deppy Gunawan
Pelajar memakai payung saat cuaca panas mendera wilayah Cimahi dan sekitarnya.

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat mewaspadai fenomena suhu panas hingga sepekan ke depan.    

"Kondisi (suhu) saat ini memang masih kisaran 39 hingga 39,6 derajat Celsius," kata Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG Miming Saepudin dalam temu media di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di Jakarta, Jumat (25/10).    

Suhu panas hingga 39,6 derajat Celsius pada 24 Oktober terjadi di daerah Ciputat, Jakarta Selatan. Sementara itu, suhu panas 38 derajat Celsius terjadi di daerah Jatiwangi, Jawa Barat, Syamsudin Nur, Banjarmasin, daerah Pantura, Semarang hingga Surabaya.    

"Potensi suhu panas ini masih meliputi wilayah-wilayah di Selatan ekuator," ungkapnya.    

Baca juga: Suhu Panas di Indonesia akibat Gerakan Semu Matahari

Ia menyebutkan Wilayah Sumatra dan Jawa secara keseluruhan masih pada kondisi cerah, yang mengindikasikan potensi cuaca terik di siang hari.    

Kulminasi suhu panas tersebut terjadi karena beberapa faktor, antara lain karena titik kulminasi matahari yang masih berada di wilayah Jawa ke daerah Selatan dan kondisi cuaca cerah di wilayah Indonesia yang saat ini masih mendominasi.        

Cuaca cerah tersebut terjadi karena karena ada fenomena anomali suhu dingin di wilayah perairan Indonesia yang menyebabkan pertumbuhan awan hujan sangat sulit terbentuk di Wilayah Sumatra, Jawa, dan sekitarnya.    

Demikian juga fenomena-fenomena anomali yang tidak cukup signifikan. Antara 25 hingga 30 Oktober 2019, wilayah yang perlu diwaspadai karena suhu maksimum yang cukup tinggi adalah Sumatra Selatan, Jawa secara keseluruhan, terutama di bagian Utara.    

"Pada 25 dan 26 juga masih konsisten di situ wilayahnya," ujarnya.    

Kemudian pada 27, 28 hingga 30 Oktober 2019, kondisi cuaca panas terik di siang hari masih perlu diwaspadai meski titik kulminasi di wilayah Jawa sudah mulai berkurang. (OL-2)

BERITA TERKAIT