25 October 2019, 09:15 WIB

Johnson Perjuangkan Pemilu Sela di Tengah Kebuntuan Brexit


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP/Adrian DENNIS
 AFP/Adrian DENNIS
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson

PERDANA Menteri (PM) Boris Johnson mengatakan dia akan memberi anggota parlemen Inggris lebih banyak waktu untuk memperdebatkan kesepakatan Brexit-nya, jika mereka menyetujui pemilihan umum sela dihelat 12 Desember.

Boris Johnson mengatakan kepada BBC, dia mengharapkan Uni Eropa memberikan perpanjangan batas waktu 31 Oktober, meskipun dia ‘benar-benar’ tidak menginginkannya.

Tetapi pemimpin oposisi Partai Buruh Jeremy Corbyn mengatakan dia tidak akan mendukung pemilihan umum sampai Brexit tanpa kesepakatan (no-deal) disingkirkan dari meja perundingan.

Para pemimpin Uni Eropa dapat memberikan keputusan untuk menunda Brexit hingga tiga bulan pada Jumat (25/10).

Pemilu sela yang diperjuangkan Johnson merupakan upaya ketiganya untuk membawa Inggris ke jajak pendapat di tengah jalan buntu dalam upaya Brexitnya.

Baca juga: Uni Eropa Bersiap Tunda Brexit

Johnson menginginkan pemilu sela pada 12 Desember. Anggota parlemen diharapkan melakukan pemungutan suara untuk proposal Brexit pada Senin.

"Cara untuk menyelesaikan Brexit adalah, saya pikir, masuk akal bagi Parlemen," kata Johnson, yang bulan lalu secara tidak sah membekukan legislatif, dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi, Kamis (24/10).

Namun, tidak ada jaminan pemilu bakal terlaksana. Johnson, yang menjabat pada akhir Juli, telah gagal dua kali memenangi dukungan dari dua pertiga majelis rendah atau Dewan Rakyat (House of Commons) yang diperlukan untuk mengadakan jajak pendapat.

Jeremy Corbyn, pemimpin partai oposisi, Partai Buruh, mengatakan dia akan menunggu dan melihat apakah Uni Erpa setuju untuk menunda perceraian Inggris dari blok tersebut.

"Singkirkan no-deal (Brexit tanpa kesepakatan) dari meja dan kami benar-benar akan mendukung pemilihan umum," kata Corbyn.

Ia menambahkan, “Jika Uni Eropa memberikan jawaban besok maka kita akan tahu besok."

Dilaporkan dari London, reporter Al Jazeera, Neave Barker, mengatakan perdana menteri kehabisan pilihan.

"Johnson melontarkan pukulan ke oposisi--tetapi dia juga melakukannya karena tersudut dan terpukul," kata Barker.

Jika Uni Eropa menawarkan perpanjangan, seperti yang dianggap sebagai pilihan yang disukai Jerman dan Irlandia, banyak amandemen akan ditambahkan ke undang-undang kesepakatan Brexit dan itu bisa berlarut-larut, atau termasuk amandemen yang tidak dapat didukung pemerintah.

Menurutnya, dengan menyerukan pemilu sekarang, Johnson bertaruh besar. Jika dia dapat mendorong Brexit lolos sebelum orang Inggris menuju ke tempat pemungutan suara, akan ada bonus pemilu yang jelas.

Jika, di sisi lain, Inggris masih menjadi anggota Uni Eropa saat pemilu diadakan, ia menanggung risiko banyak pemilih eurosceptic yang jenuh akan meninggalkan Partai Konservatif, berpotensi melukai Johnson.

Johnson sekarang berharap anggota parlemen oposisi akan menyetujui tuntutannya untuk pemilu sela, setelah memaksanya untuk mengakui kekalahan dan mempertaruhkan janjinya yang sering diulang untuk meninggalkan Uni Eropa pada 31 Oktober.

Sebanyak 100 anggota parlemen Partai Buruh dilaporkan mempertimbangkan untuk menentang pemimpin partai Jeremy Corbyn jika ia tidak mendukung pemilu pemilu sela--dan mendukung upaya Johnson untuk jajak pendapat.

Pemungutan suara, jika terealisasi pada Senin depan, diperkirakan akan berlangsung ketat. (BBC/Al Jazeera/OL-2)

BERITA TERKAIT