25 October 2019, 07:30 WIB

Pembongkaran Rumah Palestina oleh Israel Pecahkan Rekor


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP/AHMAD GHARABLI
 AFP/AHMAD GHARABLI
Seorang warga Palestina membongkar rumahnya sendiri di Jerusalem Timur.

OTORITAS Israel telah menghancurkan setidaknya 140 rumah warga Palestina di Yerusalem Timur yang diduduki tahun ini. Hal itu diungkapkan kelompok hak asasi manusia (HAM). Catatan itu merupakan jumlah tertinggi sejak 2004.

B'Tselem, Kamis (25/10), mengatakan sebanyak 238 warga Palestina telah kehilangan rumah mereka karena pembongkaran tahun ini. Jumlah pembongkaran tertinggi kedua yang tercatat adalah pada 2016, ketika 92 rumah dihancurkan otoritas pendudukan Israel.

Angka lembaga HAM itu merujuk pada rumah yang dihancurkan karena dibangun tanpa izin pemerintah yang tepat. Tetapi, para kritikus menuduh izin diskriminatif oleh pemerintah Israel telah memaksa sejumlah besar warga Palestina membangun secara ilegal.

Baca juga: Washington Cabut Sanksi untuk Ankara

Kenaikan juga datang di tengah peningkatan besar dalam aktivitas permukiman Yahudi baik di Jerusalem Timur dan Tepi Barat yang diduduki sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump berkuasa.

Tidak lama setelah merebut Jerusalem Timur selama perang enam hari Arab-Israel pada 1967, Israel memperluas batas kota untuk mengambil daerah yang luas tempat mereka kemudian membangun permukiman Yahudi.

Pada saat yang sama, Israel secara tajam membatasi perluasan lingkungan Palestina, memaksa banyak orang di daerah yang semakin padat untuk membangun secara ilegal.

Israel telah menduduki Jerusalem Timur, Tepi Barat, dan Gaza sejak perang 1967.

Palestina ingin wilayah-wilayah itu membentuk negara masa depan mereka, dengan Jerusalem Timur sebagai ibu kota. Sementara Israel menganggap seluruh Kota Jerusalem sebagai ibu kota mereka.

Bulan lalu, kelompok HAM Israel lainnya, Peace Now, memperoleh angka resmi tentang bukti kuat diskriminasi sistematis terhadap penduduk Palestina, yang merupakan lebih dari 60% dari populasi Jerusalem Timur, namun menerima hanya 30% dari izin untuk membangun rumah.

Peace Now memperkirakan setengah dari 40.000 unit perumahan yang dibangun di lingkungan Palestina sejak 1967 tidak memiliki izin, menempatkan mereka pada risiko pembongkaran yang konstan.

Pemilik terkadang memilih menghancurkan rumah mereka sendiri untuk menghindari biaya tinggi yang dibebankan otoritas Israel. Dari 140 unit yang dibongkar tahun ini, 31 dibongkar pemiliknya, kata B'Tselem.

Kelompok itu mengatakan struktur komersial juga dihancurkan pada rekor tertinggi dalam catatan, dengan 76 dibongkar sejauh ini tahun ini, dibandingkan dengan 70 di 2018.

Angka-angka pembongkaran B'Tselem hanya mencakup rumah-rumah yang dibongkar karena dibangun secara ilegal. Mereka tidak termasuk yang dihancurkan sebagai bagian dari praktik Israel menghancurkan rumah keluarga para tersangka pelaku setelah serangan-serangan yang mengakibatkan orang Israel terluka atau terbunuh.

Pada Kamis (24/10), militer Israel mengatakan mereka menghancurkan struktur yang sebagian dibangun di sebuah kamp pengungsi di kota Ramallah Tepi Barat.

Otoritas mengatakan struktur itu sedang dibangun di situs rumah keluarga seorang Palestina yang telah membunuh seorang perwira Israel selama operasi pada Mei 2018.

Tempat tinggal asli telah dihancurkan pada Desember tahun itu, tetapi pasukan Israel kembali setelah mereka mendapati konstruksi baru sedang berlangsung.

Militer mengatakan puluhan warga Palestina melemparkan batu dan bom api ke pasukan Israel selama pembongkaran dan tentara menanggapi dengan sarana pembubaran kerusuhan.

Dilaporkan tidak ada cedera di antara para prajurit Israel. (Al Jazeera/OL-2)

BERITA TERKAIT