25 October 2019, 06:50 WIB

Industri Sains Era RI 4.0


Yonvitner Dosen MSP-FPIK dan Peneliti Senior Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB | Opini

Ilustrasi
 Ilustrasi
Opini

SAINS dapat membuka sekaligus membutakan mata manusia. Kesombongan yang lahir karena menguasai sains dapat membawa kehancuran.

Untuk itu, bangunlah dan gunakan sains dengan bijak agar tidak terjebak pada ilusi dunia dan fatamorgana kemajuan karena disadari bahwa yang maju ialah yang menguasai sains dan mempergunakannya untuk kemaslahatan. Untuk menjadi bangsa yang besar, Indonesia harus merebut industri sains.  

Pengalaman penulis ketika menghadiri sebuah forum internasional kebencanaan di Tanah Air, seorang speaker dari negara yang tidak memiliki gunung api, begitu fasih menjelaskan sains dan teknologi dari bencana gunung api.  

Lebih sedihnya, sains dan teknologi yang diuraikan ialah bagian dari riset yang dilakukannya di Indonesia. Tidak hanya itu, dengan riset itu peneliti tersebut mengoleksi informasi lengkap dari Indonesia dan mempelajarinya. Kemudian, mengajarkan sebagai materi pada perguruan tingginya.  

Kita bisa bayangkan bagaimana sebuah objek tertentu mengandung berjuta pertanyaan yang dapat dijawab dengan sains dan ilmu pengetahuan. Berbagai bentuk inovasi yang dihasilkan ialah bagian dari perkembangan sains itu, termasuk di dalamnya ialah publikasi dalam bentuk buku, paper, policy brief, bahkan teori baru.

Dalam banyak negara, sains ialah bagian dari bisnis yang menjanjikan. Kita lihat banyak negara di Eropa tidak memiliki sumber daya yang memadai seperti di negara tropis, tetapi memiliki pusat sains (pendidikan dan riset) tentang tropis yang sangat maju. Pusat sains tersebut kemudian mengembangkan riset, pendidikan, serta inovasi tentang tropical issue dan resources.  

Babak berikutnya, para pemburu sains dari tropical country mengejar hasil riset dan inovasi itu ke negara yang memproses sains tersebut. Bisa dibayangkan, apa yang dimiliki negara tropis diolah orang asing dan kemudian kita kembali membuang anggaran besar untuk mengejar sains ke negara tersebut dengan skema yang kita sebut beasiswa luar negeri. Satu yang kita lupa bahwa spirit beasiswa seharusnya ialah sains solution.  

Indonesia tidak hanya membutuhkan warga negara yang berstatus PhD atau master lulusan luar negeri, tapi lebih dari itu membutuhkan warga negara yang mampu membangun sains atau mentransfer sains ke Indonesia untuk dijadikan sebagai fondasi dalam memperkuat sains dan pembangunan Indonesia.

Iya, pembangunan berbasis sains, inovasi, dan teknologi ialah bagian dari cita-cita kita menjadi negara maju. Untuk itu, ke depan pembangunan berbasis sains menjadi indikator utama dalam pembangunan. Solusinya, sains di Indonesia harus digarap dalam bentuk industri yang direncanakan sejak dari hulu sampai hilir, yang akan melahirkan berjuta lapangan kerja bagi berjuta rakyat Indonesia.


Industri sains

Membangun Industri sains Indonesia tidak terlalu sulit dan juga tidak mudah karena setidaknya kita punya 4 potensi kekuatan utama. Keempat potensi besar itu kemudian menjadi fondasi pembangunan industri sains Indonesia. Keempat fondasi inilah yang menjadi spirit memajukan ilmu pengetahuan dan sekaligus ekonomi bangsa. Pertama, negara tropis dengan mega biodiversity. Kedua, keberadaan Habibie inspirasi kebangkitan sains. Ketiga, momentum beasiswa dan SDM diaspora. Keempat, keberadaan UU Sistem Nasional Iptek (Sisnas Iptek).

Pertama, kekayaan mega biodiversity ialah sumber kekayaan sains dan Iptek. Banyak negara di dunia saat ini berharap pada biodiversity negara tropis, baik sebagai sumber pangan, kehidupan, maupun pengendali lingkungan. Sebut saja hutan tropis yang didambakan negara di dunia sebagai alat kendali perubahan iklim dan biota laut tropis sebagai sumber biomedis masa depan yang menjanjikan.  

Negara di dunia bersedia mengeluarkan jutaan dolar untuk menjaga mega biodiversity Indonesia, termasuk melakukan pengkajian. Semua biodiversity itu terus dikaji dari asal-usul, baik morfologi, genetik, potensi dan kandungan, serta derivatif turunannya.   
Berapa banyak inovasi dan teknologi yang kemudian lahir hanya untuk menguak informasi genetik dari biodiversity? Kalau kita perhatikan, semua itu terurai dengan rinci dan detail dalam urutan angka (data). Deskripsi data dan interpretasi yang kemudian kita konsumsi sebagai sebuah sumber informasi dan ilmu baru dalam sebuah paper atau artikel ilmiah.

Berpacu menemukan sesuatu yang baru ialah karakter manusia untuk selalu hadir sebagai seorang pembaru dengan ide, kreativitas, dan gagasan. Semua proses di atas ialah bagian dari proses industrialisasi sains bagian hulu. Industri sains pada bagian hilir sering kali erat dikaitkan dengan keekonomian yang dapat diperoleh. Dalam konteks ekonomi sekuen, informasi di atas merupakan bagian sari ‘sains renten’, yang kalkulasi ekonominya sangat luar biasa besar.     

Sebuah riset yang menghitung kalkulasi ekonomi riset 1986 (Office Technology Assessment) rate of return basic research mencapai 20%-50% dari investasi publik. HERG-OHE-RAND (2008) mengestimasi dampak ekonomi  pada  biomedical research antara 37%-39% dari GDP (gross domestic product). Bagaimana dengan Indonesia sebagai mega biodiversity? Berapa besar ekonomi dari pengembangan sains yang bisa kita hasilkan, termasuk di dalamnya berkembangan institusi sains, seperti perguruan tinggi, lembaga riset, Big Data Centre, dan media publikasi? Sebuah pertanyaan yang harus dicarikan jawabannya.

Kedua, faktor Habibie centris yang merupakan sebuah inspirasi dan fenomena bagi bangsa kita. Jika ditanya, siapa anak bangsa yang mampu membuat, merancang teknologi pesawat, hingga berdirinya BPPT tentu akan mudah ditemukan jawabannya, yaitu ‘Habibie’. Habibie tidak hanya dikenal di Indonesia, tapi beliau ialah milik dunia. Begitu banyak orang di dunia yang mengenal beliau dengan baik karena kepiawaiannya membangun bangsa dengan idealisme sains.  

Inspirasi Habibie ini yang dilanjutkan anaknya, Ilham Habibie, yang saat ini dapat kita baca dari gagasan beliau Iptek, sains, dan teknologi 4.0. Keberadaan Habibie ialah bagian awal dari kebangkitan sains kita yang harus dilanjutkan sepenuhnya menjadi industri sains.

Ketiga, yaitu keberadaan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan diaspora ialah dua aset yang menjadi kekuatan bangsa yang belum termanfaatkan. Tercatat lebih dari 5000 diaspora yang dapat dioptimalkan bangsa ini. Kekuatan ini makin bertambah dengan dukungan LPDP untuk penguatan SDM. Dalam proses industri sains kita sudah memiliki modal SDM unggul. Tinggal dimanfaatkan sesuai kebutuhan industri yang dirancang.

Spirit ke empat dari industri sains nasional ialah kehadiran UU Sisnas Iptek. Pesan dari UU Sisnas Iptek, kehadiran Badan Riset Nasional (BRN) yang tidak an sich sebagai koordinator administrasi riset, tetapi sekaligus menjadi pengendali industri riset yang memiliki tugas dari hulu sampai hilir. Hulunya ialah assessment seluruh kekuatan industri riset, dari proses memetakan dan merencanakan SDM bersama universitas dan di hilir merancang industrialisasi.  

Salah satu kunci yang harus diperankan ialah mewajibkan industri berpartner dengan universitas atau lembaga riset. Alternatifnya memberikan peluang kepada PTN Badan Hukum untuk lebih inklusif dalam merancang industri berbasis sains. Dengan beban PT yang disampaikan menteri keuangan yang mirip BUMN, izin penggunaan aset untuk industri sains mesti lebih mudah.

Keberadaan UU Sisnas Iptek harus dijadikan momentum sebagai lompatan maju industri sains dan iptek nasional sehingga menjadi kekuatan bangsa. Tidak saatnya lagi bangsa kita mengekor kepada bangsa lain dalam urusan sains dan Iptek. Saatnya bangkit menjadi negara dengan kekuatan sains kelas dunia berbasis industri 4.0.

 

BERITA TERKAIT