25 October 2019, 03:55 WIB

Emil Menggiring Pebisnis


Bayu Anggoro | Nusantara

MI/Bayu Anggoro
 MI/Bayu Anggoro
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil

GUBERNUR Jawa Barat Ridwan Kamil selalu menyapa para investor jika bepergian ke luar negeri. Tujuannya untuk memasarkan potensi daerah dan mengajak mereka menanam modal di daerah yang dikenal sebagai Tatar Priangan itu.

"Cara saya itu saya sebut door to door marketing untuk Jawa Barat. Kami tidak hanya berbisnis dengan menjaga warung,” tuturnya kepada sejumlah perwakilan duta besar dan pelaku usaha dari Polandia, Inggris, Afrika Selatan, Korea, dan Thailand di Bandung, kemarin.

Karena motivasi itu, Emil mengaku sering berkunjung ke sejumlah negara. Yang terdekat, ia akan ke Jepang, pekan depan. Dengan pendekatan yang ia sebut dynamic goverment itu, Emil mengaku menawarkan sejumlah proyek di Jawa Barat dengan nilai US$59 miliar.

Terkait kedatangan investor dari luar negeri yang ia undang, mantan Wali Kota Bandung itu mengaku ajakannya masih pada tahapan mengenal iklim investasi di Jabar.

“Tak ada yang langsung konkret. Ini forum komunikasi, mereka bertanya macam-macam soal isu sosial, politik di Jawa Barat. Bagaimana provinsi dengan penduduk muslim terbesar di Indonesia ini,” tambahnya.

Diplomat senior Dino Patti Jalal yang hadir dalam acara itu mengaku diminta bantuan oleh Emil untuk mengenalkan potensi Jawa Barat kepada investor luar negeri.

“Ada 50 orang perwakilan dari kedutaan besar dan komersial atase,” ujar Dino.

Dia mengakui potensi ekonomi di provinsi ini sangat besar. “Dari segi kompetitif dan produktivitas, luar biasa. Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat di atas nasional.”

Hanya saja, Dino dan Emil mengakui upah pekerja di Jawa Barat yang cukup tinggi menjadi hal yang dikeluhkan para investor. Selain itu, penanam modal juga mengeluhkan praktik pemerasan yang dilakukan pemerintah daerah.

Perwakilan Dewan Korea, Ahn Chang Sub, mengaku ada 250 perusahaan tekstil asal negaranya yang berinvestasi di Jawa Barat. Serapan tenaga kerjanya mencapai 350 ribu orang.

“Upah di Jawa Barat tinggi, lebih tinggi dari provinsi lain. Banyak pengusaha asal Korea yang berencana merelokasi pabriknya ke daerah lain,” keluhnya.


Rempah

Upaya mengembangkan potensi daerah juga disuarakan sejumlah pemerintah daerah. Di Bangka Belitung, Kepala Dinas Pertanian Juaidi optimistis kehadiran Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo akan mampu mengangkat kejayaan rempah.

“Bangka Belitung ingin rempah dikenal dunia lagi. Kami percaya dengan pengalaman Menteri Pertanian memajukan pertanian di Sulawesi Selatan, dia mampu menggerakkan potensi pertanian di daerah lain,” ujarnya.

Potensi rempah daerah ini ialah lada putih. Saat ini, perdagangan komoditas itu sedang lesu.  Di Temanggung, Jawa Tengah, Bupati M Al Khadziq memastikan produk lokal tidak kalah dari produk luar. Oleh karena itu, ia mengajak warganya lebih menghargai produk lokal masyarakat.

Salah satu upayanya ialah menggelar ­pameran produk lokal. Daerah ini memiliki produk industri, perdagangan, jasa, juga industri besar, menengah, dan industri kecil.

Kemarin, Dinas Pertanian Klaten juga menggelar pameran produk hasil pertanian.  “Kami ingin menunjukkan bahwa Klaten memiliki potensi besar produk hasil pertanian,” ungkap Kepala Dinas Pertanian, Widiyanti. (RF/TS/JS/N-2)

BERITA TERKAIT