25 October 2019, 01:55 WIB

Washington Cabut Sanksi untuk Ankara


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP
 AFP
Presiden Amerika Serikat Donald Trump

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mencabut sanksi ekonomi terhadap Turki yang berlaku sejak 14 Oktober setelah Ankara dinilai mematuhi perjanjian gencatan senjata di perbatasan Turki-Suriah.

“Biarkan orang lain memperebutkan kawasan yang sudah lama berlumuran darah ini,” kata Trump dalam pidato di Gedung Putih, Rabu (23/10).
Langkah Trump ini juga sekaligus berarti penyerahan kekuasaan di Suriah ke Ankara dan Moskow yang kini semakin berpengaruh.
Menurut Trump, gencatan senjata di perbatasan itu sebuah ‘terobosan besar’.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Mark Esper menilai Turki ‘telah melakukan tindakan yang keliru’ dengan menyerbu perbatasan Suriah serta membuat perjanjian dengan Rusia untuk melakukan pat­roli bersama.

“Turki sudah membuat kita semua dalam kondisi yang sangat buruk. Seharusnya penyerbuan itu jangan sampai terjadi,” ujar Esper.

Sebelumnya Turki menerobos ma­suk ke perbatasan Suriah pada 9 Oktober untuk mengusir milisi Kurdi yang selama ini telah membantu pasukan AS dalam meme­rangi ISIS. Tujuan Turki adalah menciptakan zona aman di perbatasan yang bisa dipakai untuk penampungan pengungsi Suriah.

Menurut Ankara, para anggota milisi juga terlibat dengan kelompok teroris PKK yang selama ini menyerang Turki.

Trump sendiri menolak tuduhan telah menghianati pasukan Kurdi. Dikatakannya, komandan milisi yaitu Mazloum Abdi sudah ’berterima kasih’ atas keputusannya.

“Saya tidak mau pasukan AS terlibat di dalam pertengkaran antara Turki dan Kurdi,” kata Trump.

Sementara itu, ketika pasukan AS dan milisi Kurdi meninggalkan perbatasan Suriah-Turki, pasukan Rusia maupun Turki masuk mengisi tempat mereka.

Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu telah berunding dengan Ab­di dan meyakinkan kubu Kurdi bah­­wa mereka tidak perlu me­ng­ungsi. Langkah ini sekaligus menjawab kekhawatiran bakal terjadinya pembersihan etnis oleh Turki di kawasan tersebut.


Mulai mundur

Dalam pertemuan pemimpin Turki dan Rusia di Sochi, Rusia, baru-baru ini, dinyatakan bahwa pasukan Kurdi diberi batas waktu sampai Selasa (29/10) untuk mundur sekitar 30 kilometer dari perbatasan Suriah-Turki.

Kemarin, pasukan Kurdi yang tergabung dalam milisi SDF di barat daya Suriah mulai mundur dari posisi mereka.

“SDF sudah mundur dari kawasan Derbasiyeh dan Amuda di pe­­­gunung­an Hasakeh,” ungkap kepa­la Syrian Observatory for Human Rights, Rami Abdel Rahman.

Sementara itu, milisi dari kelompok YPG, yang merupakan unsur terbesar dalam SDF, masih bertahan di sejumlah daerah di perbatasan. Dikatakan pula bahwa telah terjadi bentrokan antara milisi SDF dengan milisi pemberontak Suriah yang mendukung Turki.

Sejumlah pasukan AS sendiri kini masih bertahan di wilayah timur Suriah.

“Kawasan itu sumber minyak sehingga beberapa pasukan AS akan berada di tempat itu untuk mengamankannya,” ujar Trump.

Sejauh ini pasukan pemerintah Suriah yang dipimpin Presiden Ba­shar al-Assad belum mampu me­nguasai sepenuhnya wilayah timur tersebut. Assad berharap dapat segera menguasai kembali kawasan paling subur dan kaya minyak tersebut. (AFP/X-11)

BERITA TERKAIT