25 October 2019, 00:20 WIB

Nicholas Saputra Peduli Perubahan Iklim


Indriyani Astuti | Hiburan

Dok. MI/Rommy Pujianto
 Dok. MI/Rommy Pujianto
Aktor Nicholas Saputra

JARANG terdengar kabarnya, aktor Nicholas Saputra, 35, muncul di Gedung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jakarta, Selasa (22/10). Dengan mengenakan kemeja hitam, Nicho, demikian ia biasa dipanggil, hadir di sana sebagai Komisaris Rumah Produksi PT Talamedia.

Pria kelahiran Jakarta, 24 Februari 1984 itu menjelaskan, ia hadir untuk mengabarkan telah rampungnya proyek pembuatan film Semesta garapan rumah produksinya.

Film ini mendokumentasikan beragam kisah komunitas, individu, dan sebuah keluarga di Indonesia, yang melakukan sesuatu terhadap lingkungannya untuk menghambat laju perubahan iklim berdasarkan agama dan budaya yang mereka miliki. "Jadi, kita berusaha untuk menggali dan mengikuti bagaimana mereka hidup berdedikasi untuk lingkungannya," terang Nicho.

Kepedulian Nicho pada alam sekitar memang cukup besar. Ia sering berbagi kabar dengan penggemarnya dalam akun Instagram-nya, lewat foto-foto indah bertema alam hasil bidikan kameranya. Hutan yang hijau, pohon yang meranggas, gajah yang tengah berendam, birunya laut, hingga hijaunya padi di sawah.

Gayung bersambut saat KLHK menawarkan kerja sama pembuatan film Semesta untuk mengedukasi dan menyosialisasikan masyarakat mengenai perubahan iklim dan langkah adaptif sederhana yang bisa dilakukan.

Saat ini, kata Nicho, pihaknya tengah mengupayakan agar film tersebut bisa diputar di banyak festival film, antara lain festival film di Barcelona, Spanyol, yang akan tayang pada November 2019. "Ada beberapa festival lagi yang masih kita tunggu jawabannya," ucap pemeran Rangga dalam film Ada Apa dengan Cinta (2002) itu.

Ia pun berharap nantinya film berdurasi 90 menit itu akan diputar di bioskop-bioskop komersial agar lebih luas ditonton masyarakat. Selain bioskop, Nicho membuka kerja sama dengan komunitas, perguruan tinggi, dan sekolah-sekolah yang ingin menonton film tersebut.

"Pemutaran film secara privat nanti rencana ke depannya akan kami sebarluaskan semaksimal mungkin untuk bisa ditonton masyarakat," ungkap peraih Piala Citra untuk Pemeran Utama Pria Terbaik di Festival Film Indonesia 2008 lewat film 3 Hari untuk Selamanya itu.

Menurut rencana, film Semesta akan diputar di jaringan bioskop pada awal 2020. Upaya promosi akan dilakukan mulai November 2019, dilanjutkan dengan pemutaran di sejumlah komunitas, sekolah, hingga kampus.

"Saya berharap film ini bisa membuka diskusi dan dialog mengenai dampak perubahan iklim di kalangan masyarakat," cetus Nicho.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) KLHK, Ruandha Agung Sugadirman, mengatakan film Semesta juga akan dibawa ke Konferensi Perubahan Iklim PBB 2019 (2019 United Nations Climate Change Conference/COP25) yang rencananya akan diadakan di Santiago, Cile pada Desember 2019.

"Dokumenter itu akan menunjukkan kepada dunia bahwa selama ribuan tahun, Indonesia sudah memiliki kearifan lokal dalam penjagaan hutan dan lingkungan," serunya.


Tujuh lokasi

Nicholas menuturkan ada tujuh tempat dokumentasi yang diambil untuk film Semesta. Lokasi pertama dipilih di Aceh, bagaimana seorang kepala atau pemimpin agama di sana menjaga alam dan menjaga gajah hidup berdampingan.

Dari Aceh, kamera lantas mengarah ke sebuah daerah di Kalimantan yang berhasil mendapatkan penghargaan Kalpataru. Dusun yang terletak di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, tersebut mendapatkan penghargaan Kalpataru pada 2019 karena menjaga 9.000 hektare lahan adat.

Lokasi terpilih ketiga ialah Pulau Misool, Papua. Di sana, ada kampung yang menerapkan sasi, larangan mengambil sesuatu dari hutan atau dari laut yang sudah disepakati luas dan waktunya. Hal yang menginisiasi sasi ialah para mama di sana.

Lokasi selanjutnya ialah Flores, Nusa Tenggara Timur. "Di sana, seorang pastor menginisiasi sebuah proyek pembangkit listrik tenaga air karena ia melihat semua orang di daerahnya memakai genset yang menghasilkan asap," tutur Nicho.

Film Semesta juga menyambangi Yogyakarta. Ada satu keluarga yang mempraktekkan cara bercocok tanam yang menyerupai hutan menjadi organik.
Potret adaptasi perubahan iklim lainnya diambil di Bali, yang dikenal sebagai Pulau Dewata. "Peringatan Hari Nyepi di Bali memberikan kontribusi terhadap berkurangnya karbondioksida," kata Nicho.

Lokasi terakhir yang menjadi tempat pengambilan gambar Semesta ialah DKI Jakarta, yang mana pasangan muda yang membuat pelatihan cocok tanam secara urban.  (H-2)

 

BERITA TERKAIT