24 October 2019, 22:40 WIB

Teror Putih Ancam Tokoh Prodemokrasi Hong Kong


MI | Internasional

AFP
 AFP
Stanley Ho

STANLEY Ho, 35, terkejut. Sekelompok orang tiba-tiba mengeroyoknya beberapa waktu lalu. Insiden terhadap aktivis buruh itu satu contoh dari serangan, yang kemudian dijuluki ‘teror putih’, terhadap tokoh-tokoh prodemokrasi Hong Kong.

Istilah teror putih ini dipinjam dari Taiwan. Dulu orang-orang yang mengkritik pemerintahan pimpinan Chiang Kai-shek jadi target serangan kelompok-kelompok penjahat terorganisasi.

Di Hong Kong, tercatat sudah delapan tokoh prodemokrasi dipukuli para penyerang yang tidak dikenal sejak akhir Agustus 2019. Sebagian orang khawatir jaringan kejahatan ‘Triad’ pro- Beijing sebagai pelakunya.

Para korban termasuk penyelenggara unjuk rasa, anggota parlemen oposisi, hingga pemimpin mahasiswa.

Ho sebelumnya bersaing dalam pemilihan lokal melawan kubu pro-Beijing yang telah mendominasi daerah itu. “Penyebab serangan itu mungkin terkait dengan pemilihan dewan distrik yang akan datang dan gerakan yang sedang berlangsung,” kata Ho, merujuk pada aksi protes warga Hong Kong.

Pekan lalu, Jimmy Sham, pemimpin kelompok yang mengorganisasikan aksi unjuk rasa juga diserang memakai palu oleh sekelompok orang. Itu kedua kalinya dia diserang.

Sementara itu, Isaac Cheng, siswa berusia 19 tahun dan wakil ketua Partai Demosisto yang prodemokrasi, dipukuli tiga pria pada awal September di luar rumahnya setelah ia membantu mengatur aksi protes.

Lima korban serangan telah melaporkan kasus itu ke polisi, tetapi hanya tiga orang yang sejauh ini ditahan karena penyerangan terhadap Sham. Polisi Hong Kong telah membantah tuduhan tidak serius menangani kasus ini dan mengatakan sudah memburu semua pelaku.

Namun, reputasi polisi tercoreng sejak mereka membiarkan serangan oleh sekelompok pria berkaus putih terhadap demonstran prodemokrasi di stasiun kereta Yuen Long pada akhir Juli.

Dihantui ketakutan dan kurangnya kepercayaan pada polisi, tokoh-tokoh prodemokrasi mengatakan sekarang mengatur perlindungan sendiri meski pilihan mereka terbatas.

“Yang bisa saya lakukan ialah lebih berhati-hati dan merekrut lebih banyak sukarelawan sehingga tidak harus bekerja sendirian,” kata Janelle Leung, 25, kandidat pemilihan lokal yang diserang saat kampanye. (Haufan Hasyim Salengke/AFP/X-11)

BERITA TERKAIT