24 October 2019, 19:56 WIB

KPK Gali Aliran Uang dari Istri Imam Nahrawi


Dhika kusuma winata | Politik dan Hukum

MI/Susanto
 MI/Susanto
Istri mantan Menpora Imam Nahrawi, Shohibah Rahmah

ISTRI mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Shobibah Rohmah enggan berkomentar seusai diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan suap dana hibah KONI untuk tersangka Imam.

"Mohon maaf ya (tidak bisa berkomentar). Mohon doanya saja buat Bapak (Imam Nahrawi) ya. Terima kasih," ujar Shobibah seusai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (24/10).

Penyidik antirasywah menduga Shobibah mengetahui perihal kasus yang menjerat suaminya dan memerlukan keterangannya. Selain memanggil Shobibah, komisi juga memanggil seorang wanita dari pihak swasta bernama Shirley F Gerung. Shirley juga dipanggil sebagai saksi untuk Imam.

Sebelumnya, KPK juga memeriksa Sesmenpora Gatot S Dewa Broto. Gatot mengaku dimintai klarifikasi mengenai dokumen yang disita komisi. Ia mengaku tidak ada materi pemeriksaan soal dugaan penerimaan suap oleh Imam.

"Hanya dalam konteks pemberkasan. Soal dokumen-dokumen yang disita oleh KPK ketika OTT. Tidak ada (materi mengenai pemberian suap)," kata Gatot usai menjalani pemeriksaan, Rabu (23/10).

Gatot menerangkan dokumen-dokumen tersebut terkait dengan pemberian hibah KONI dari Kemenpora yang telah disita KPK. Berkas-berkas tersebut, Gatot menambahkan, juga telah digunakan untuk proses persidangan yang telah menjerat pejabat Kemenpora lainnya yakni Mulyana, Adhi Purnomo, dan Eko Triyanta. Ketiganya telah divonis di Pengadilan Tipikor Jakarta.

"Dokumen itu digunakan di persidangan lalu sudah dikembalikan kepada kami kemudian disita lagi oleh KPK untuk kelanjutan pemeriksaan terhadap Pak Imam Nahrawi," ucapnya.

KPK menetapkan Imam Nahrawi sebagai tersangka bersama asisten pribadinya Miftahul Ulum. KPK menduga Ulum sebagai perantara suap yang diterima Imam. Adapun mantan menteri asal Partai Kebangkitan Bangsa itu diduga menerima suap total sebesar Rp26,5 miliar secara bertahap sejak 2014 hingga 2018.

Uang yang diterima diduga merupakan commitment fee atas pengurusan proposal hibah KONI, penerimaan terkait jabatan Imam Ketua Dewan Pengarah Satlak Prima, dan sejumlah penerimaan lain dalam kaitan jabatannya sebagai Menpora. (OL-8)

BERITA TERKAIT