24 October 2019, 16:00 WIB

Wujudkan Pendidikan 4.0 Jadi Tantangan Besar Bagi Nadiem


Mediaindonesia.com | Humaniora

Antara
 Antara
Pakar marketing digital, Bayu Endro Winarko (kiri) dan pakar ekonomi kerakyatan Frans Meroga Panggabean, MBA (kanan). 

KESUKSESAN Nadiem Makarim melahirkan decacorn dengan Go-Jek-nya di era disrupsi yang dibesutnya dalam 8 tahun  diharapkan bisa diterapkan di bidang Pendidikan dan Kebudayaan di Tanah Air.

Dengan ditunjuknya Nadiem menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dalam Kabinet Indonesia Maju diharapkan bisa menutup celah masih tertinggalnya metode pendidikan di Indonesia yang merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Tantangan mewujudkan pendidikan 4.0 seiring dengan revolusi industri 4.0 adalah target pekerjaan yang harus diselesaikan Nadiem dalam era kedua pemerintahan Jokowi-Ma’ruf demikian kata Pakar Marketing Digital, Bayu Endro Winarko, MBA di Jakarta, Rabu ( 23/10).

"Digital tidak sekedar teknologi seperti AI ( Artificial Intelligence), big data, IoT (Internet of Things), atau digital voice, tapi menyangkut habit atau budaya. Pesatnya teknologi apabila tidak diarahkan dan digunakan dengan tepat, akan menjadi sia-sia," jelas Bayu yang juga Ketua Bidang Kajian Kebijakan Publik Generasi Optimis (GO) Indonesia ini.

Menurut Bayu, penggabungan teknologi dalam metode proses belajar mengajar yang akan mendorong budaya generasi muda dalam belajar adalah terobosan bagi Indonesia yang saat ini berada di puncak bonus demografi.

Selanjutnya, kata Bayu. habit dan habitat diyakini akan tercipta dalam bidang pendidikan yang akan menyokong keberhasilan proses belajar dan mengajar.

"Yang terbayang dalam benak saya pertama, misalnya ada satu icloud yang bisa dimanfaatkan dalam kolaborasi bersama sehingga tercipta standarisasi dalam pembelajaran," lanjut Bayu.

"Jadi zonasi yang menuai pro dan kontra selama ini teratasi karena adanya standarisasi dalam content, delivery, dan measurement system," papar Bayu.

Bayu menejlaskan bahwa pendidikan vokasi di bidang digital sejak dini akan mencetak generasi muda Indonesia yang siap dan terampil dalam teknologi digital dan pastinya mendorong kemajuan berbagai industri.

"Coba bayangkan Indonesia bisa menjadi seperti India yang punya banyak jago-jago programer hebat. Ini akan menciptakan multiplier effect yang besar ke industri lain seperti manufaktur, pariwisata, retail, food & agri dan lain sebagainya," tambah Bayu lagi.

Di sisi lain, pakar ekonomi kerakyatan, Frans Meroga Panggabean, MBA mengatakan bahwa penunjukkan Nadiem Makarim sebagai Mendikbud adalah keputusan yang brilian dari Presiden Joko Widodo. Momentum ini adalah awal kebangkitan ekonomi digital Indonesia dalam masa revolusi industri 4.0.

Dengan ketersediaan infrastruktur jaringan internet cepat pasca diresmikannya 'tol langit' satelit palapa ring beberapa hari yang lalu, maka diyakini pula minat generasi muda untuk menekuni bisnis digital pasti akan melonjak tajam.

Frans Meroga, yang juga Wakil Ketua Umum Generasi Optimis (GO) Indonesia, mengatakan bahwa tantangan prospek ekonomi digital di Asia Tenggara hingga 2025 yang diyakini mampu menembus angka US$150 Miliar hanya dapat dihadapi membudayakan penguasaan digital sejak dini.

"Penyesuaian kurikulum di semua tingkatan sekolah dipastikan akan merangsang generasi muda Indonesia mahir digital sejak dini," jelas Frans Meroga.

"Kurikulum pelajaran komputer di SMP dapat disesuaikan dengan telah mulai mengenalkan jaringan, aplikasi, dan coding sejak kelas 7," lanjut Frans lagi.

Selanjutnya penjurusan pada sekolah menengah atas (SMA) dapat dibuatkan jurusan digital guna melengkapi jurusan IPA dan IPS yang telah ada selama ini.

"Jadi penjurusan di SMA bisa dimulai sejak kelas 10 dan mendesak segera dibuka jurusan digital yang akan mengajarkan membuat platform aplikasi digital, big data, dan jaringan," ujar Frans yang juga tim penulis buku 'The Ma'ruf Amin Way' tersebut.(Antara/OL-09)

BERITA TERKAIT