24 October 2019, 14:20 WIB

Sasar Dana Jangka Panjang, Mandiri Taspen Luncurkan PUB Rp1 T


mediaindonesia.com | Ekonomi

MI/M IRFAN
 MI/M IRFAN
Dari kiri, SEVP Finance, Retail & Digital Banking Fajar Ari S, Direktur Bank Mantap Iwan Soeroto, Direktur Utama Bank Mantap Josephus K. 

Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap) segera meluncurkan obligasi dalam skema Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) tahap 1 dengan target indikatif Rp1 triliun. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mendiversifikasi sekaligus memperbaiki struktur pendanaan bank dalam jangka panjang.

"Yang pasti penggunaannya untuk mendukung ekspansi kredit, itu yang utama. Hal itu sekaligus memperbaiki struktur pendanaan. Sebab kalau kita bicara kredit pensiun, sifatnya long term sehingga kita perbaiki struktur funding-nya dengan obligasi. Ini kan ada dua tenor yakni 3 tahun dan 5 tahun, artinya untuk memperkuat struktur funding kita." tutur Direktur Utama Bank Mantap Josephus K. Triprakoso saat ditemui di paparan publik atas PUB Tahap I tersebut di Hotel Fairmont Jakarta, kemarin.

Josephus menerangkan obligasi tahap pertama itu merupakan bagian dari rencana PUB sebesar Rp4 triliun yang akan diluncurkan secara bertahap hingga 2022. Kupon yang ditawarkan sendiri berkisar antara 7,9%-8,35%. Untuk komposisi rate dalam struktur PUB tahap 1 tersebut mengacu pada penawaran yang masuk dari investor.

“Obligasi tersebut dibagi menjadi dua seri, yaitu Seri A dengan tenor 3 tahun dan Seri B dengan tenor 5 tahun. Seri A ditawarkan dengan tingkat  kupon sebesar 7,90% hingga 8,10% dan Seri B ditawarkan dengan tingkat kupon sebesar 8,10% hingga 8,35% per tahun, serta kupon dibayarkan setiap triwulan,” terang Josephus.

Ia mengutarakan untuk tahap berikutnya akan dilakukan pada tahun depan pada kuartal pertama atau kedua. Besaran tahap keduanya akan melihat situasi terlebih dahulu, tapi Josephus memastikan pihaknya akan mengacu pada kuota yang Rp4 triliun sebagaimana dicanangkan.

Josephus menerangkan pihaknya sengaja memilih instrumen PUB ketimbang right issue karena disesuaikan dengan penggunaan dana yang diperoleh nanti.

"Kalau tidak sesuai NIM-nya jadi jeblok. Jadi memang harus kami selaraskan, karena kalau sudah mendapatkan pendanaannya tetapi tidak bisa disalurkan (dalam kredit) akan menjadi masalah," terang Josephus.

Untuk saat ini, struktur pendanaan Mandiri Taspen masih campuran dari sejumlah instrumen. Ada deposito, dana pihak ketiga (DPK), NCD, serta obligasi. Dengan mengedepankan obligasi, NCD maupun MTN serta instrumen jangka panjang lain diharapkan menambah variasi sumber pendanaan dan dipandang lebih baik secara kualitas pendanaan.  

Lebih lanjut Josephus menerangkan DPK Mandiri Taspen berada pada kisaran Rp19 triliun dan tahun depan pihaknya menargetkan DPK di kisaran Rp21 triliun-Rp22 triliun karena kredit ekspansinya akan berkisar di Rp24 triliun-Rp25 triliun.  

"Untuk DPK, obligasi kami tahun lalu kurang lebih Rp2 triliun. Kami juga ada NCD. Total DPK kami masih di kisaran Rp19 triliun. Sedangkan untuk likuiditas masih aman dan punya cadangan lebih," terang Josephus.

Ia mengaku saat ini mayoritas pendanaan masih dari deposito. Meski pihaknya ingin mendapatkan dana yang bersifat jangka panjang tetapi Josephus mengaku hal tersebut masih harus disesuaikan dengan ekspansi kredit.

Dengan pertumbuhan kredit di atas 30% tentu pendanaan harus mengikuti angka tersebut. Dengan demikian, umumnya hal tersebut berbasis DPK konvensional atau deposito, meski tetap ada yang bersifat season dengan mengeluarkan obligasi maupun instrumen lain.

Saat ini kredit dari Mandiri Taspen di kuartal III 2019 sudah mencapai Rp19 triliun dengan pertumbuhan sebesar 30% (yoy). Oleh sebab itu dirinya optimistis target kredit tahun ini mencapai Rp20 triliun dan masih hingga kini masih berada pada jalurnya.

Dari sisi laba hingga kuartal III ini pihaknya sudah mendapat sekitar Rp305 miliar. Hal tersebut masih sesuai target tahun ini sekitar Rp400 miliar. Ia mengaku optimistis labanya dapat tembus dari angka tersebut.

Pada kesempatan yang sama, SEVP Finance, Retail & Digital Banking Bank Mantap Fajar Ari Setiawan menuturkan, dalam rangka penerbitan obligasi, perseroan memperoleh hasil rating atas obligasi oleh PT Fitch Rating Indonesia dengan peringkat AA. Perusahaan yang menjadi penjamin pelaksana emisi. Penjamin emisi obligasi adalah PT Mandiri Sekuritas, PT BCA Sekuritas, PT BNI Sekuritas, dan PT Danareksa Sekuritas.

“Masa penawaran awal obligasi (book building) tahap I akan dilakukan pada 23 Oktober hingga 6 November 2019. Selanjutnya, distribusi obligasi secara elektronik direncanakan dilakukan pada 26 November 2019 dengan target pencatatan di Bursa Efek Indonesia pada 27 November 2019," tutur Fajar.

Fajar menambahkan, Bank Mantap mencari likuiditas di pasar modal karena pertumbuhan kredit yang ekspansif. Pada akhir Agustus 2019, kredit yang diberikan mencapai Rp18,69 triliun, tumbuh 34,6% dari periode tahun lalu. Pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK menyebabkan rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to funding ratio (LFR) mencapai 93,38% per 31 Agustus 2019. Diharapkan dengan terbitnya obligasi tahap 1 dapat menekan rasio LFR dengan proyeksi akhir tahun ini di angka 90,5%.

Menuju Buku III

Pada kesempatan itu pula, Josephus optimistis perusahaan dapat menembus bank umum kelompok usaha (BUKU) III pada 2021, seiring dengan pertumbuhan organik yang signifikan.
"Kalau bicara perencanaan pada 2021 kami (dapat) masuk BUKU IIII dengan aset di Rp40-an triliun dan profit di Rp1 triliun. Ini sesuai dengan core plan, tetapi kita lihat ke depan," ujar Josephus.

Lebih lanjut ia mengaku pihaknya akan tetap bermain dalam pengelolaan pensiun sebagai bisnis inti. Ia mengaku tetap yakin karena pihaknya memiliki keuntungan kompetitif (competitive advantage) yang unik dan sulit ditandingi bank lain.

"Tantangan secara umum itu karena yang main di pensiun makin banyak. Bisa dikatakan hampir semua bank bermain di pensiunan. Artinya sekarang yang perlu kami jaga adalah kualitas dan service. Itu sebetulnya kunci kekuatan Mantap. Sebab kami bisa mengatakan bahwa bank yang fokus pensiunan itu adalah kami," tutur Josephus.

Sebagaimana diketahui sampai dengan akhir bulan Agustus 2019 total aset yang dimiliki Bank Mantap di posisi Rp24,55 triliun atau tumbuh sekitar 41,7%, sedangkan penghimpunan dana pihak ketiga mencapai Rp18,37 triliun tumbuh sampai dengan 40,5%.

Untuk penyaluran kredit berkisar Rp18,69 triliun, naik 34,6% (yoy). Khusus untuk penyaluran kredit pensiunan sebesar Rp17,32 triliun dengan persentase tumbuh 41,3% (yoy). Laba bersih yang dihasilkan sebesar Rp270,7 miliar naik sampai dengan 19,6% dari periode tahun sebelumnya. (Dro/S3-25)

BERITA TERKAIT