24 October 2019, 04:40 WIB

Banyak Harapan Pendidikan Disematkan ke Nadiem


Syarief Oebaidillah | Humaniora

 MI/ANDRI WIDIYANTO
  MI/ANDRI WIDIYANTO
SERAH TERIMA JABATAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN: Nadiem Anwar Makarim menginjakkan kaki pertama kali di Kementrian Pendidikan  

MENTERI Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyerahkan semua keputusan mengenai kebijakan pendidikan pada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang baru Nadiem Anwar Makarim. Bidang tugas Kemendikbud ke depan juga melingkupi Pendidikan Tinggi yang selama ini berada di kementerian tersendiri.

"Tadi Pak Mendikbud sudah bilang ingin mempelajari dulu situasi, saya kira betul. Kemudian saya sudah menyerahkan rencana strategis pendidikan, mana yang perlu dievaluasi dan mana yang perlu dilanjutkan," ujar mantan Mendikbud itu di Jakarta, kemarin.

Sejumlah program dirancang oleh Muhadjir seperti penerapan sistem zonasi untuk mengatasi masalah pendidikan dan kompetensi guru, penyelesaian masalah guru honorer, hingga program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Sebelumnya, Muhadjir menitipkan empat hal pada Mendikbud baru yakni program penguatan pendidikan karakter, percepatan distribusi KIP, melanjutkan revitalisasi sekolah, dan memperluas zonasi sekolah.

Muhadjir menambahkan sebagai Menko PMK dirinya diminta Presiden Jokowi untuk fokus pada dua hal, yakni memperluas lapangan pekerjaan dengan mendidik tenaga terampil dan manajemen talenta yang bertujuan mendata talenta hebat yang dimiliki Indonesia.

Harapan kepada Mendikbud Nadiem juga disampaikan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yakni kelanjutan kebijakan zonasi pendidikan. Zonasi menurut KPAI adalah upaya paling tepat membenahi pendidikan dari akarnya. KPAI lanjut dia, mendorong lahirnya Peraturan Presiden tentang sistem zonasi pendidikan sebagai sarana kolaborasi dan sinergi antar kementerian atau lembaga dengan pemerintah daerah.

Terpisah Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) Yos Johan Utama menantikan pemikiran out of the box dari Menteri Nadiem dalam upaya memajukan pendidikan Indonesia. Ia menambahkan Nadiem memiliki pengalaman memimpin suatu perusahaan yang fenomenal dan diharapkan bisa mengakselerasi program kerja Kemendikbud. "Kinerja kabinet yang baru ini akan dilihat dalam 100 hari pertama," ujarnya.

Perlu pembuktian

Di sisi lain, Ketua.Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) M Ramli Rahim mengaku skeptis. "Nadiem memang Alumni Brown University dan Harvard Business School, AS namun belem tentu tahu peta soal pendidikan negeri," ujarnya. Ia menilai kesuksesan Nadiem di Gojek belum tentu bisa dipakai untuk menangani dunia pendidikan yang banyak masalah.

Dicontohkan masalah kekurangan guru di sekolah negeri mencapai 1.141.176 orang belum termasuk 391.644 guru yang akan pensiun pada 2020 hingga 2024. Belum lagi, SMK masih menduduki peringkat tertinggi jumlah pengangguran di Indonesia.

"Meski demikian, kami yakin sepenuhnya Presiden Jokowi pasti punya harapan tersendiri terhadap Nadiem. Boleh jadi setelah melihat percobaan "Profesor" berulang kali, kini Pak Jokowi ingin memilih yang segar dan tak banyak teori," pungkasnya.(HJ/H-1)

BERITA TERKAIT