23 October 2019, 21:33 WIB

Angka Pernikahan Dini Indonesia Tertinggi Kedua di Asia Tenggara


Eni Kartinah | Humaniora

Istimewa
 Istimewa
Sarihusada bekerja sama dengan Fakultas Ekologi Manusia IPB mengembangkan Modul Pelatihan Cegah Stunting untuk Usia Remaja. 

INDONESIA masih dihadapkan dengan berbagai permasalahan kesehatan, termasuk tingginya angka kematian ibu dan anak. Selain itu, Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan angka pernikahan dini tertinggi kedua di ASEAN.

Ketidaksiapan secara fisik dan mental pada ibu yang hamil pada usia muda mengakibatkan berbagai tantangan selama proses kehamilan hingga melahirkan. Dalam jangka panjang, terbatasnya pengetahuan ibu tentang pentingnya persiapan gizi pada masa 1000 hari pertama kehidupan juga meningkatkan risiko anak mengalami gangguan pertumbuhan hingga stunting.

Melihat pentingnya edukasi dan persiapan terkait gizi sejak dini, Sarihusada sebagai bagian dari Danone Specialized Nutrition bekerja sama dengan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (FEMA-IPB) mengembangkan Modul Pelatihan Cegah Stunting untuk Usia Remaja. Penandatanganan kerjasama antara kedua pihak dilakukan hari ini di kampus IPB dihadiri oleh dekan FEMA-IPB dan perwakilan Danone. 

Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan Msc, Dekan FEMA IPB menyampaikan, “Walau ekonomi terus tumbuh, di bidang gizi dan kesehatan kita masih dihadapkan dengan berbagai tantangan termasuk stunting."

"Saya meyakini edukasi remaja adalah sebuah terobosan karena peningkatkan pengetahuan gizi sebelum memulai keluarga akan berkontribusi pada kesadaran akan kesehatan ibu dan anak di masa penting dalam kehidupannya, termasuk memutus rantai persoalan stunting,” kata Prof Ujang.

Menurut WHO, usia remaja dimulai dari usia 10 hingga 19 tahun. Pada masa growth spurt remaja mengalami perubahan fisik, fungsi reproduksi, psikis dan sosial. Sayangnya, dalam masa perubahan tersebut, remaja banyak yang mengalami kekurangan gizi. Data Studi Diet Total (2014) menunjukkan bahwa remaja di Indonesia usia 13-18 tahun mengalami defisiensi protein dan energi.

Karyanto Wibowo, Sustainable Development Director Danone menyatakan, “Misi perusahaan kami adalah untuk membawa kesehatan ke sebanyak mungkin orang di dunia. Dimanapun kami beroperasi, kami ingin dapat terus berkontribusi positif, baik dalam aspek lingkungan maupun kesehatan masyarakat."

"Untuk itu, kami melakukan berbagai upaya edukasi tentang pentingnya pemenuhan gizi di masa-masa penting kehidupan termasuk dalam masa seribu hari pertama sebagai investasi penting kesehatan ibu dan anak di masa depan,” kata Karyanto.

Prof. Dr Id. Sri Anna Marliyati, MSi, ketua tim ahli yang mengembangkan modul. menyampaikan, “Sebanyak 53% remaja mengalami defisiensi energi berat dan 48% defisiensi protein berat. Resiko lebih besar terjadi pada remaja putri, para calon ibu, dimana defisiensi gizi akan berdampak pada kesehatan ibu dan buah hati selama masa kehamilan dan melahirkan seperti anak lahir dengan berat badan lahir rendah.”

Menurut Prof Sri, program pengembangan modul edukasi gizi remaja ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman remaja tentang gizi seimbang dan pola konsumsi makanan yang tepat.

"Modul yang dikembangkan akan meliputi tentang perkembangan fisik, biologis, psikis dan sosial serta tentang kecukupan gizi dan penerapannya. Pelatihan akan dilakukan dengan pendekatan peer to peer, dan dikembangkan dengan saluran komunikasi sosial yang aktif dan interaktif," paparnya.

 

BERITA TERKAIT