24 October 2019, 03:40 WIB

Surat Buat Pak Nadiem Makarim


Khairil Azhar Divisi Pelatihan Pendidikan Yayasan Sukma | Opini

MI/Ramdani
 MI/Ramdani
Opini

SELAMAT, Pak Nadiem! Sebagai guru dan orangtua dari anak-anak Indonesia, kami kini menyandarkan harapan di hati, pikiran, dan tanganmu. Rasanya ini sesuai dengan makna namamu yang kami tahu 'sahabat yang mahamulia'.

Setelah 74 tahun merdeka, dengan jujur kami katakan, pendidikan di negeri yang kaya-raya ini ternyata belum menjamin bahkan sekadar subsistensi. Ijazah, bahkan dengan tingkat pendidikan tinggi sekalipun, belum bisa memastikan semua kami layak bekerja dan hidup berkecukupan.

Dengan apa yang telah engkau lakukan, dengan bisnis berbasis berjuta umat, adalah tonggak yang akan senantiasa dikenang dan disyukuri. Bahkan tak sedikit dari anak bangsa ini yang telah menjadikanmu teladan, menjadi lentera dalam bekerja dan merintis usaha.

Kini engkau tegak paling depan, menjadi lokomotif yang menarik seluruh gerbong pendidikan negeri ini. Di atas kertas, ukuran awam sangatlah sederhana. Pertama kuantifikasi jumlah lulusan dari berbagai tingkat pendidikan dan kedua penilaian lembaga-lembaga pemeringkat pendidikan.

Tapi kami memintamu lebih dari itu. Pendidikan tidaklah seperti mengayak pasir untuk mendapatkan emas. Pasir dibuang, emas diambil. Manusia adalah manusia. Pendidikan di negara-negara maju yang pernah engkau datangi menyebutnya sebagai inklusi.

Semua berhak mendapat tempat. Semua merupakan anak bangsa yang berhak hidup dan mencicipi kesejahteraan. Jika ekualitas dalam pendidikan ialah soal kesetaraan kesempatan, ekuitas merupakan soal perlakuan yang tepat atas realitas diri setiap anak-anak bangsa.

Hari-hari ini, para pengurus negara, pengusaha, teknokrat, dan pemikir pendidikan berbicara tentang Revolusi Industri 4.0. Dunia pendidikan tentu saja juga dituntut untuk bisa berevolusi dan mencapai standar 4.0 ini. Tiada masalah sebenarnya.

Hanya saja, seperti ketika engkau mengurus bisnis, ada persoalan kejernihan. Dalam pandangan mereka yang berpikir teknokratis, lulusan pendidikan diistilahkah sebagai 'tenaga siap pakai'. Salah satu asumsi dasar dari frase ini ialah pendidikan adalah untuk menciptakan mesin atau robot bertubuh manusia yang menjadi 'pekerja'.

Padahal, seperti dirimu, sukses sebagai manusia itu adalah soal menjadi manusia. Yakni terdapat kemampuan untuk berkehendak (self-determination), bersikap dan berbuat (self-expression), serta mampu menilai diri sendiri (self-evaluation). Engkau sukses dengan bisnismu adalah karena engkau keluar dari pakem awam 'mekanisasi manusia'.

Jika banyak orang mungkin menilai sukses dari aspek finansial, sukses terbesar dirimu menurut kami bukanlah itu. Seperti kata Abraham H Maslow (1908-1970), kebahagiaan sempurna itu terkait dengan keberhasilan aktualisasi diri ketika pikiran-pikiranmu mewujud menjadi karya-karya nyata.

Dalam bahasa lain, seperti kami baca dalam berbagai berita tentang dirimu, kebahagian terbesarmu adalah ketika engkau berhasil membantu dan membahagiakan jutaan orang.

Itulah sebabnya, kami berharap engkau tidak terjebak dalam konsep link and match sempit yang bermakna dan berwujud dalam mekanisasi manusia. Selain soal pemenuhan kebutuhan dunia usaha atau industri, pendidikan yang bertujuan untuk link and match hendaklah berdasar penghormatan pada bakat, talenta dan realitas alamiah manusia.

Sebagai guru dan orangtua, kami ingin anak-anak kami bertumbuh dan berkembang dengan kepemilikan atas visi, misi, dan kapasitas diri mereka sendiri. Sistem pendidikan negeri ini telah lama sekali tak memberikan kesempatan yang memadai untuk ketiga hal itu. Kurikulum, birokrasi, buku teks dan guru-guru telah menjebak ratusan juta manusia Indonesia untuk sekadar menjadi fatalis: supaya bisa diatur (to be ruled), namun tak mampu mengatur nasibnya sendiri (to rule).

Itulah sebabnya, Pak Menteri, bersekolah dan belajar bagi banyak anak Indonesia saat ini hanyalah sekadar untuk memenuhi kewajiban dari orang tua. Mereka mau belajar dan bersekolah bukan karena apa yang dipelajari dan bagaimana pembelajaran diselenggarakan intrinsically compelling, menggugah ketertarikan yang mendalam. Dan, psychologically rewarding, memberi arti yang tak ternilai pada diri.

Indikasi kasat mata dari keberhasilan mengubah arah pendidikan ini, Pak Menteri, ialah jika kita melihat murid-murid dan mahasiswa menjadi pembelajar mandiri, self-learners. Dan ini juga yang kami lihat pada dirimu. Bukankah engkau demikian adanya, tak pernah lelah untuk belajar?

Apakah ini terlalu berat bagimu, Pak Menteri? Dengan melihat prestasimu, kami yakin engkau akan sanggup menjalankannya.

Jika engkau bersetuju dengan kami, Pak Menteri, masih ada dua hal lagi yang kami minta. Pertama soal guru dan keguruan dan kedua soal debirokratisasi pendidikan.

Banyak sekali guru-guru di negeri kita belum keluar dari masalah subsistensi, terutama karena negara tak punya sistem yang adil. Jebakan utama dari persoalan ekonomi ini ialah perlombaan menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Karena, adanya gaji permanen dari negara atau terlibat dalam komodifikasi pendidikan untuk mengejar rente yang kadangkala juga ala kadarnya.

Salah urus pendidikan dan pelatihan guru, selanjutnya, telah melahirkan banyak guru yang underqualified, baik dari segi kapasitas akademis, pedagogis, maupun sosial. Jika Pak Menteri menguji kemampuan Bahasa Inggris seorang guru SMA di Jakarta, umpamanya, dan membandingkannya dengan kemampuan murid SMA yang masuk sepuluh terbaik di sekolahnya, mungkin Bapak akan terkejut. Demikian juga halnya, jika Bapak membandingkan cara mengajar guru di sebuah sekolah kita dengan guru di mana Bapak dulu pernah bersekolah di luar negeri.

Di atas semua itu, Pak Menteri, akar utama dari persoalan pendidikan kita adalah birokratisasi yang terus membesar. Anggaran pendidikan kita, jika Pak Menteri hitung, diisap mesin yang tak kenal ampun ini.

Selain birokrasi yang amat gemuk dan harus dibiayai di setiap kantor yang mengurus pendidikan, bantuan operasional sekolah (BOS) saja, umpamanya, yang sudah disalurkan langsung ke setiap sekolah juga dipaksa untuk dibagi-bagi. Dengan berbagai cara, para pejabat pendidikan di daerah, mungkin juga di pusat, berusaha dengan segala macam cara untuk memaksa manajemen sekolah supaya mau berbagi dana itu.

Akibat dan kemudian menjadi penyakit lain dari birokratisasi pendidikan, seiring dengan teknokratisasi pendidikan, adalah standarisasi yang salah kaprah. Salah satu dampak merusaknya adalah pendidikan demi standardized minds. Terutama, ketika perkembangan kecerdasan diukur dengan angka-angka dengan asumsi kurva normal (Peter Sacks, 2000). Aspek keunikan murid dan lingkungan sosial di mana mereka hidup hanya pura-pura masuk hitungan.

Terkait yang terakhir ini, Pak Manteri, kami tahu engkau sadar sekali. Dengan semua inovasi usahamu yang memanfaatkan teknologi informasi, engkau berkembang karena dialektika yang intensif dengan dunia di mana dirimu berada. Pertama engkau keluar dari jebakan standar umum pendidikan dan kedua membangun berbagai standar sendiri bagi dirimu.

Baiklah, Pak Menteri. Ini mungkin sudah terlalu panjang untuk surat pertama. Kami sadar, ini boleh jadi terlihat aneh bagi bapak. Engkau baru dilantik dan tiba-tiba saja kami menuntutmu sedemikian rupa. Mohon maaf dan sampai berjumpa dalam surat-surat berikutnya.

BERITA TERKAIT