23 October 2019, 20:55 WIB

Pelantikan Kabinet Baru Beri Sentimen Positif


M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

ANTARA/NOVA WAHYUDI
 ANTARA/NOVA WAHYUDI
Sejumlah karyawan mengamati layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

NILAI tukar rupiah pascapelantikan Kabinet Indonesia Maju, Rabu (23/10) pagi tercatat berada di posisi Rp14.035 per dollar Amerika Serikat. Angka itu  menguat dibanding pada Selasa (22/10) yang ada di posisi Rp14.040 per dollar Amerika Serikat.

Kepala Riset PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra menilai penguatan rupiah itu merupakan buah dari ditunjuknya kembali Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan.

"Susunan kabinet Jokowi masih menopang penguatan rupiah setelah Sri Mulyani diumumkan sebagai Menkeu," ujar Ariston melalui pesan singkat.

Baca juga: IHSG Dibuka Menguat meski Bursa Saham Regional Negatif

Sri Mulyani, kata Ariston, dianggap oleh pasar sebagai sosok yang memiliki kemampuan mumpuni untuk membantu kebijakan fiskal Presiden Joko Widodo.

Selain sosok Sri Mulyani, penunjukkan Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan juga dinilai memberi pengaruh positif pasar. Dari sosok Prabowo, Indonesia diuntungkan dengan suara parlemen yang akan terus menguat dan dianggap memengaruhi kebijakan fiskal ke depan.

"Jadi Jokowi bisa mendapatkan suara yang cukup di parlemen untuk mendukung kebijakannya," ujar Ariston.

Sementara jika dilihat dari faktor eksternal, Ariston menilai Brexit (Britain Exit) menjadi salah satu yang mendongkrak nilai tukar rupiah.

"Tapi pengaruhnya memang tidak terlalu besar untuk rupiah. Yang besar itu hasil negosiasi dagang AS dan Tiongkok yang sejauh ini masih positif," tukasnya.

Senada, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian menilai, pascapelantikan menteri Kabinet Indonesia maju, memberikan sentimen positif kepada pasar modal. Dengan komposisi menteri itu, kata Fakhrul, memberikan kepastian bagi pelaku usaha.

"Saya memandang pelaku pasar berharap dengan adanya kabinet baru kita bisa melihat pertumbuhan ekonomi yang lebih baik kedepannya," ujarnya.

Menyoal dengan kondisi indeks harga saham gabungan (IHSG) yang sempat berada di zona merah pada Rabu pagi, Fakhrul menilai hal itu tidak bersinggungan langsung dengan pelantikan menteri baru.

"Penurunan yang terjadi di sesi 1 karena bereaksi pada sentimen memburuknya data tenaga kerja di Amerika Serikat," tandas Fakhrul. (Mir/A-3)

BERITA TERKAIT