24 October 2019, 01:10 WIB

Ini Alasan Baru Kita Wajib Cuci Tangan Usai Buang Air


Irana Shalindra | Weekend

Unsplash/Curology
 Unsplash/Curology
Mencuci tangan usai buang air kecil atau besar menjadi makin krusial dilakukan.

Apakah Anda termasuk orang yang lupa, atau malas, mencuci tangan sehabis buang air kecil (atau besar)?

Kalau iya, sebaiknya Anda mulai ingat-ingat untuk membasuh tangan seusai urusan privat itu kelar. Pasalnya, riset menemukan bahwa penyebaran bakteri E. coli terbanyak disebabkan oleh orang-orang yang tidak mencuci tangan setelah urusan toilet, alih-alih dari daging atau makanan lain yang kurang matang.

Manusia dan hewan membawa bakteri E. coli di usus. Biasanya tidak berbahaya, tetapi ada beberapa jenis yang bisa menyebabkan keracunan makanan, yang lain menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK), dan yang paling berbahaya, menyebabkan infeksi aliran darah.

E. coli telah menjadi lebih resisten terhadap antibiotik selama 20 tahun terakhir. Varian dengan elemen enzim Extended Spectrum Beta-Lactamases (ESBLs) ternyata dapat menghancurkan penisilin dan antibiotik lain yang disebut sefalosporin.

Para ilmuwan kini telah menemukan bahwa rute penularan paling mungkin untuk bakteri superbug ESBL-E. coli langsung dari manusia ke manusia, "dengan partikel tinja dari satu orang mencapai mulut orang lain."

"Infeksi yang disebabkan oleh bakteri ESBL-E. Coli sulit diobati. Dan mereka menjadi lebih umum di masyarakat dan rumah sakit," kata David Livermore dari Norwich Medical School dari University of East Anglia, seperti dilansir CNN, kemarin.

Livermore mengatakan tingkat kematian di antara orang yang terinfeksi dengan strain superbug ini dua kali lipat dari orang yang terinfeksi dengan strain yang rentan terhadap pengobatan.

Dia mengatakan E.coli adalah penyebab paling umum keracunan darah, dengan lebih dari 40.000 kasus per tahun di Inggris.

Strain yang resisten antibiotik menyebabkan sekitar 10% dari kasus ini dan sangat mengkhawatirkan bagi dokter, tambah Livermore.

Para peneliti menganalisis 20.000 sampel tinja dan ratusan sampel darah, mempublikasikan temuan mereka dalam jurnal The Lancet Infectious Diseases, Selasa (23/10).

Pengujian mengungkapkan bahwa bakteri E.coli jenis ST131, yang berdiam di usus dan kadang-kadang dapat menyebabkan infeksi serius, didominasi dalam sampel darah manusia, saluran pembuangan dan kotoran, sedangkan jenis yang berbeda lebih umum pada daging hewan dan ampas.

"Ada sedikit persilangan antara varian dari manusia, ayam dan sapi," kata Livermore, pemimpin penulis laporan itu, dalam sebuah pernyataan.

"Sebagian besar ESBL-E. Coli yang menyebabkan infeksi pada manusia tidak berasal dari makan ayam, atau apa pun dalam rantai makanan."

Livermore berpendapat bahwa ayam harus tetap dimasak dengan baik, dan daging mentah dan salad tidak boleh diolah langsung bergantian dengan perkakas serupa. Akan tetapi, ditambahkan dalam kasus ESBL-E. coli "jauh lebih penting untuk mencuci tangan setelah pergi ke toilet."

Ini sangat penting di rumah perawatan, karena orang tua menderita infeksi E. coli paling parah, kata Neil Woodford dari Public Health England, dalam pernyataan itu.

Woodford juga mengatakan resep yang tidak tepat perlu dihindari untuk mengurangi resistensi antibiotik, dan lebih banyak yang harus dilakukan untuk menghindari infeksi.

"Untuk membatasi infeksi serius, infeksi bakteri E. coli yang kebal antibiotik, kita harus fokus pada pencucian tangan dan pengendalian infeksi yang baik, serta manajemen infeksi saluran kemih yang efektif," katanya. (M-2)

BERITA TERKAIT