23 October 2019, 19:47 WIB

Perang Dagang Peluang Bagi UMKM Indonesia


Faustinus Nua | Ekonomi

ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
 ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Warga membuka lahan miliknya di kawasan yang masuk ke dalam wilayah ibu kota negara baru di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara, Kaltim.

PERANG dagang yang terjadi antar Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok telah mempengaruhi situasi ekonomi global menjadi tidak stabil. Negara-negara berkembang seperti Indonesia turut terkena dampak perang dagang tersebut.

Menanggapi situasi global yang tidak menentu tersebut, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengajak masyarakat pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk melihat peluang dari situasi tersebut. Menurutnya, beberapa negara Asia seperti India dan Vietnam justru mendapat keuntungan dari perang dagang AS - Tiongkok.

"India itu luar biasa ada perang dagang dia happy, karena ada relokasi peran jasa dan produksi dari Tiongkok ke India. Vietnam juga, ada relokasi manufaktur dari Tiongkok ke Vietnam," kata Bhima dalam acara Indonesia Economic Outlook: Peluang di Ibu Kota Baru bersama BTPN di Samarinda, Rabu (23/10).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia menurutnya berjalan di tempat. Sebab menurut Bhima, adanya perang dagang tersebut sebenarnya tidak terlalu berpengaruh kepada ekonomi Indonesia. Ekonomi Indonesia saat lebih ditopang oleh konsumsi rumah tangga.

"Kenapa ekonomi Indonesia relatif masih punya daya tahan, Singapura itu mengandalkan ekspor dan transit distribusi. Sementara Indonesia 57% pertumbuhan ekonominya ditunjang konsumsi rumah tangga," tuturnya.

Baca juga: Ibu Kota Baru mulai Dibangun Tahun Depan

Dijelaskannya lebih lanjut bahwa situasi perang dagang sebenarnya bisa dimanfaatkan Indonesia. Sektor industri yang dinilai terdampak adanya perang dagang ternyata kalau dilihat tiap-tiap segmennya justru ada yang mengalami peningkatan yang sangat pesat. Hal itu justru terjadi pada segmen-segmen yang bisa digarap UMKM.

"UMKM produksi sarung tangan di Bandung kenaikan bisa sampai 200% sejak perang dagang. Itu karena pemain golf di AS mengalihkan pada sarung tangan Indonesia yang biaya masuknya lebih murah," tambahnya.

Begitu pula dengan segmen produksi pakaian yang menurutnya terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pakaian pada 2018 mengalami peningkatan 19% dan trennya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Peluang-peluang tersebut menurutnya penting untuk dimanfaatkan UMKM. Di era keterbukaan komunikasi dan informasi, UMKM harus bisa kreatif untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memanfaatkan peluang pasar baik domestik maupun internasional.

Dia juga menambahkan bahwa di wilayah Ibu Kota Negara baru (IKN) dan sekitarnya. Peluang bisnis yang bisa dimanfaatkan UMKM sangat besar. Ke depan IKN menjadi wilayah strategis dan menjadi prospek perkembangan ekonomi Indonesia mengingat pemerintah saat ini juga sedang mendorong peningkatan investasi. 

Oleh karena itu masyarakat khususnya pelaku usaha UMKM harus lebih siap dalam memanfaatkan peluang ekonomi tersebut. (A-4)

BERITA TERKAIT