23 October 2019, 18:51 WIB

Hujan Emas dan Rekor dari Lifter Junior Indonesia di Korea Utara


Yakub Pryatama Wijayaatmaja | Olahraga

Dok. PB PABBSI
 Dok. PB PABBSI
Lifter Rahmat Erwin Abdullah melakukan angkata clean & jerk di Kejuaraan Angkat Besi Junior 2019

LIFTER junio Indonesia kembali mendulang medali emas di Kejuaraan Angkat Besi Junior 2019 di Pyongyang, Korea Utara, yang berakhir 27 Oktober mendatang.

Kali ini giliran lifter putra, Rahmat Erwin Abdullah meraih medali emas dari kelas 73 kg serta berhasil memecahkan Rekor Asia dengan total angkatan 326 kg. Ia juga berhasil mengangkat Snatch 147 kg, Clean & Jerk 179 kg.

Ia berhasil mempecundangi dua lifter tuan rumah Korea Utara yang menjadi pesaing utamanya.

Selain itu, tambahan medali emas juga diperoleh dari Putri Aulia Andriani kelas 59 kg putri, di total angkatan Snatch berhasil mengangkat barbel seberat 86 kg hanya terpaut selisih satu kilogram dari lifter tuan rumah Korea Utara, Won Gyong Pak.

Indonesia juga menambah perbendaharaan medali perak dari lifter Juiana Klarisa yang tampil di kelas 55 kg putri.

Baca juga : Lifter Indonesia Panen Medali di Kejuaraan Asia Youth & Junior

Sebelumnya, Muhammad Faathir yang masih berusia 16 tahun, menyabet tiga medali emas di kelas 61 kg.

Sementara Lifter Putri, Windy Chantika Aisyah yang berusia 17 tahun, berhasil meraih satu medali emas dan dua perak di kelas 49 kg.

Medali emas dipersembahkannya di total angkatan Snatch seberat 84 kg, sedangkan di angkatan Clean& Jerk(102 kg), dan Total Angkatan, ia hanya meraih perak.

Menurut Manajer Pelatnas angkat besi, Sonny Kasiran dalam keterangan persnya dari Pyongyang, keberhasilan para lifter yunior ini merupakan modal awal bagi tetap berkesinambungan regenerasi di angkat besi. Selain itu, kejuaraan ini merupakan salah satu poin menuju Olimpiade Tokyo 2020.

"Kita sudah membuktikan bahwa di level usia bisa meraih prestasi tingkat Asia maupun Dunia. Saya berharap agar setibanya di tanah-air mereka tetap digembleng di Pelatnas dan tidak terputus," tutur Sonny.

Menurut Sony, jika terputus, dikhawatirkan para lifter muda akan disusul oleh lawan dibawahnya dan untuk mengejarnya butuh waktu yang cukup lama.

"Biasanya ini yang selalu menjadi masalah di Indonesia," ujar Sonny. (OL-7)

BERITA TERKAIT