23 October 2019, 15:05 WIB

Berakhirnya 'Drama' Istana


Gantyo Koespradono, Mantan Jurnalis, Pemerhati Sosial Politik | Opini

MI/Ramdani
 MI/Ramdani
Presiden dan Wapres RI berfoto bersama para menteri yang dilantik di Istana Negara, Rabu (23/10) pukul 10.30 WIB

MENYAKSIKAN siaran langsung televisi dari Istana Negara sejak Senin (21/10) hingga hari ini (Rabu 23/10), kita seolah sedang menonton serial sinetron dan membuat kita tidak sabar akhir ceritanya seperti apa.

Sebagaimana kita ketahui, pasca pelantikan Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin masing-masing sebagai presiden dan wakil presiden periode 2019-2024, terhitung sejak Senin (21/10), Jokowi berperan sebagai "sutradara".

Saya sebut sebagai sutradara, sebab dialah yang menjadi sang penentu, cerita itu akan berakhir seperti apa?

Lazimnya, setelah pelantikan presiden, masyarakat bertanya-tanya siapa yang akan dipercaya oleh "presiden baru" sebagai menteri.

Jokowi dan timnya di istana rupanya pandai memermainkan psikologi massa. Ia mengendalikan seluruhnya "drama" Istana.

Saat mengundang orang-orang (tokoh) ke Istana Negara (Kepresidenan) yang diperkirakan akan diangkat menjadi menteri, Jokowi minta mereka mengenakan kemeja putih dan bawahan hitam.

Masuk ke istana, mereka juga diatur sedemikian rupa, tidak bersamaan, tapi satu per satu. Saya perhatikan, mereka seolah diwajibkan memberikan salam dan senyum kepada wartawan yang juga telah disiapkan di tempat khusus.

Bahkan, saya tidak tahu, ini sengaja atau tidak? Bupati Minahasa Selatan, Christiany Eugenia Tetty Paruntu, pun diundang ke istana mengenakan baju putih. Belakangan diketahui perempuan berusia 52 tahun itu "batal" menjadi menteri.

Kehadiran Prabowo Subianto, "musuh bebuyutan" Jokowi dalam kontestasi pilpres 2014 dan 2019 ke Istana Negara pada hari pertama (Senin 21/10), juga mengundang "drama" baru dan memunculkan pertanyaan, "apa lagi nih maunya Jokowi?"

Prabowo sepertinya diistimewakan oleh Jokowi. Ia diminta datang pada hari Senin ketika calon menteri dari unsur parpol koalisi belum diundang.

Kejutan "drama" ala Jokowi dan Istana ini memunculkan spekulasi dan "gorengan" baru bagi awak media. "Korbannya" adalah NasDem. Diberitakan Partai NasDem kecewa dan akan mengambil posisi sebagai oposisi.

Berita pernyataan lama (normatif) Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh pun dimunculkan lagi dengan judul spekulatif bahwa Paloh memberi sinyal partai yang dipimpinnya akan mengambil peran sebagai oposisi.

Saya bisa pahami mengapa berita-berita tendensius itu disebarluaskan (NasDem seolah-olah kecewa karena Prabowo Subianto masuk ke kabinet Jokowi), lantaran Partai NasDem-lah yang sejak 2014 hingga sekarang konsisten dan konsekuen mendukung dan mengawal pemerintahan Jokowi. Dalam Pemilu 2019, partai ini bahkan mengusung tagline: "Jokowi Presidenku, NasDem Partaiku".

Semua spekulasi itu terjawab setelah tiga tokoh NasDem diundang ke istana keesokan harinya (Selasa 22/10). Mereka adalah Siti Nurbaya Bakar yang tetap dipercaya menjadi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan; Syahrul Yasin Limpo (Menteri Pertanian); dan Johnny G Plate (Menteri Komunikasi dan Informasi).

Hingga Selasa (22/10) malam, masih ada beberapa calon menteri dan pembantunya yang belum diundang, sehingga memunculkan spekulasi.

Semuanya akhirnya terjawab pada hari ini (Rabu 23/10) setelah Jokowi dan pihak istana membuat "drama" baru mengumumkan para calon menteri sambil lesehan di tangga Istana Merdeka.

Presiden dan para menteri tidak lagi mengenakan kemeja putih, tapi batik, pakaian khas Nusantara kebanggaan bangsa. Perhatikan cara Jokowi mengumumkan nama-nama menteri. Ia cukup membaca dari catatan yang ditulisnya di secarik kertas.

Selesai sudah "drama" Istana meskipun Jokowi tetap membuat kejutan-kejutan ("drama") baru menyangkut posisi beberapa menteri.

Banyak orang, termasuk saya, yang tidak menyangka Nadiem Makarim (bos Gojek) dipercaya Jokowi menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Kejutan lain adalah ditempatkannya mantan jenderal TNI Fahrul Razi sebagai Menteri Agama. Personalia Kabinet Indonesia Maju (KIM) yang hari ini (Rabu 23/10) dilantik punya perspekstif dan harapan baru.

Silakan terka apa motif Jokowi menempatkan Nadiem Makarim sebagai mendikbud, Fahrul Razi (menag), Tito Karnavian (mendagri), dan Prabowo Subianto (menhan)?

Apakah setelah itu akan drama baru? Menurut saya ya akan ada babak baru Indonesia yang lebih maju, aman, damai dan
NKRI tetap terjaga dan terbentengi dari mereka atau pihak-pihak (anasir) yang coba-coba mengganggu kebinekaan kita.

Selamat kepada para menteri, bekerjalah dengan penuh tanggung jawab, dan mengutip pesan Presiden Jokowi di tangga Istana Merdeka, "jangan korupsi".

 

BERITA TERKAIT