23 October 2019, 14:57 WIB

Menkes Baru Harus Berani Naikan Iuran BPJS


Atalya Puspa | Politik dan Hukum

MI/Susanto
 MI/Susanto
Kepala RSPAD dr Terawan terpilih sebagai menteri kesehatan pada periode kedua pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin 

AGUS Terawan Putranto akan menjabat sebagai Menteri Kesehatan dalam Kabinet Indonesia Maju selama lima tahun ke depan menggantikan posisi Nila Moeloek. Pria kelahiran Yogyakarta 5 Agustus 1964 ini memulai sepak terjangnya di dunia kedokteran sejak tahun 1990.

Nama Terawan mencuat di permukaan publik setelah penemuan metode cuci otak untuk penderita stroke yang menimbulkan pro kontra di kalangan praktisi dan akademisi kedokteran. Harapan besar kini diemban kepada Terawan, melihat kondisi sistem kesehatan di Indonesia masih perlu banyak koreksi.

Saat dimintai pendapat, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany langsung menyoroti masalah Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang perlu segera ditangani.

Hasbullah menyatakan, dirinya menunggu langkah tegas Terawan untuk segera menaikkan iuran BPJS Kesehatan untuk kepentingan masyarakat dan pelayanan kesehatan.

"Yang paling penting beliau (Terawan) harus berani bersikap menaikkan iuran dan meyakinkan Presiden dan Menteri Keuangan bahwa kenaikan iuran, baik pemerintah pusat dan daerah maupun masyarakat masih dalam batas kemampuan fiskal yang besar," kata Hasbullah kepada Media Indonesia, Rabu (23/10).

Dirinya menilai, langkah tegas tersebut harus dilakukan agar kepercayaan masyarakat terhadap JKN tetap terjaga.

Hasbullah tak memungkiri, nantinya akan banyak pro dan kontra yang muncul atas langkah tersebut. Namun begitu, ia meyakini kenaikan iuran BPJS Kesehatan dilakukan untuk perbaikan pelayanan kesehatan di Indonesia.

"Harus berani mengambil kebijakan besar, membenahi sekarang dengan lompatan meskipun banyak diprotes orang. Tapi itu akan membuat masa jabatan lima tahun ke depan akan smooth daripada ditunda tiap tahun," ujarnya.

Di sisi lain, dirinya menilai Terawan juga harus berani memperjuangkan agar anggaran kesehatan dan iuran jaminan kesehatan pada APBN bisa naik dua kali lipat.

"Belanja kesehatan kita baru 3,4% dari PDB, belanja kesehatan publik baru 1,2% dari PDB. Kalau belanja kesehatan publik 3%, itu baru jempolan. Kalau enggak begitu nanti fasilitas kesehatan kita akan ketinggalan dan produktivitas masyarakat tidak terjaga," jelasnya.

baca juga: Presiden Tidak Masalah Menterinya Punya Jabatan di Parpol

Dari sisi kesehatan masyarakat Indonesia, dirinya berharap Terawan bisa memberikan solusi terhadap sejumlah penyakit penyebab kematian yang mengganggu produktivitas SDM.

"Stunting jangka panjang. Yang paling dipritaskan kesehatan ibu, penyakit TBC, hipertensi, dan diabetes. Itu beresin dulu lah," tandasnya. (OL-3)

BERITA TERKAIT