23 October 2019, 07:00 WIB

Jaga Tekanan Darah, Sayangi Ginjalmu


(Ind/H-2) | Humaniora

DOK. 123RF
 DOK. 123RF
ilustrasi

HIPERTENSI atau tekanan darah tinggi kerap menjadi biang kerok rusaknya sejumlah organ penting, seperti otak, jantung, ginjal, mata, pembuluh darah besar (aorta), dan pembuluh darah tepi. Di antara semua itu, yang perlu dikhawatirkan ialah dampaknya terhadap ginjal.

"Tekanan darah tinggi menjadi penyebab utama penyakit ginjal kronis (PGK)," kata Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (Perhi) Tunggul D Situmorang di Jakarta, Kamis (17/10).

Tunggul menjelaskan, PGK ialah kondisi saat fungsi ginjal menurun secara bertahap karena kerusakan ginjal. Ginjal berfungsi sebagai penyaring dan pembuang racun-racun sisa metabolisme. Fungsi ginjal akan terganggu yang berakibat menumpuknya racun-racun dan cairan di dalam darah dan seluruh tubuh. Cairan berlebih dalam pembuluh darah akan meningkatkan tekanan darah lebih tinggi lagi.

Seiring berjalannya waktu, ujar Tunggul, hipertensi merusak pembuluh darah ke seluruh tubuh, termasuk pembuluh darah ginjal menjadi menebal dan kaku (atherosclerosis). Kondisi itu menyebabkan suplai darah berkurang ke organ-organ penting seperti ginjal. Lalu, hipertensi juga merusak unit penyaringan kecil di ginjal (nephron).

Tunggul melanjutkan, ginjal yang sehat memegang peranan penting dalam menjaga tekanan darah melalui mekanisme hemodinamik (pengaturan jumlah cairan dan garam) serta hormonal (sistem renin-angiotensin). Jika keseimbangan ini terganggu, fungsi ginjal menjadi tidak maksimal dalam mengatur tekanan darah. "Hipertensi dapat sebagai penyebab PGK, tapi bisa juga hipertensi sebagai akibat PGK," sahutnya.

Seperti telah dikatakan sebelumnya, penurunan fungsi ginjal terjadi bertahap. Glomerular filtration rate (GFR) dalam mililiter per menit merupakan indikator makin rusaknya fungsi ginjal seseorang. Bagi orang dengan ginjal yang sehat, angka GFR sekitar 90 ml/menit. Sementara itu, ginjal dengan kerusakan ringan GFR ada di kisaran 60 ml-89 ml/menit, sedang 30 ml-59 ml/menit, berat 15 ml-29 ml/menit, dan gagal ginjal <15 ml/menit.

Tunggul menegaskan, gagal ginjal dapat dicegah dengan memastikan tekanan darah terkontrol. Hipertensi, umumnya tidak hanya sendiri, tapi juga selalu disertai faktor risiko lain, misalnya, diabetes dan kolesterol.

Karena itu, pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah, tapi juga harus mengobati faktor risiko lainnya. "Tidak boleh menghentikan obat-obat hipertensi walaupun tekanan darahnya sudah stabil dan normal," tutupnya.

Prevelensi hipertensi di Indonesia terus meningkat dari 27,8% berdasarkan data Riskesdas 2013 menjadi 34,1% di 2018. Temuan ini berbanding lurus dengan terus naiknya kasus PGK. Presiden Direktur Bayer Indonesia, Angel Michael Evangelista, menyampaikan, hipertensi meningkatkan angka kesakitan, kematian, serta beban biaya kesehatan. Dalam upaya menurunkan prevelensi hipertensi, imbuhnya, butuh komitmen bersama secara berkesinambungan dari semua pihak. (Ind/H-2)

BERITA TERKAIT