23 October 2019, 05:30 WIB

Fokus Kembangkan Bisnis Gojek belum Lirik IPO


Hilda Julaika | Ekonomi

 MI/Andri Widiyanto
  MI/Andri Widiyanto
Kampanye #gakpakelama Gojek luncurkan 3 inovasi baru

PT Aplikasi Karya Anak Bangsa, perusahaan teknologi yang melayani jasa angkutan berbasis aplikasi atau yang populer dengan sebutan Gojek, menegaskan bahwa mereka tidak menjadikan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) sebagai prioritas dalam waktu dekat ini. Perusahaan akan lebih fokus untuk mengembangkan bisnis dan layanan.

"Fokus kami saat ini ialah terus mengembangkan bisnis dan memperkuat layanan kepada para pengguna aplikasi kami," kata Vice President Regional Corporate Affair Gojek Michael Say dalam keterangan tertulis, kemarin.

Michael menambahkan pihaknya juga terus berusaha memberikan dampak ekonomi dan sosial yang signifikan kepada para mitra di negara-negara tempat Gojek beroperasi. Selain di Indonesia, Gojek juga beroperasi di Vietnam, Filipina, Thailand, dan Singapura.

Aplikasi Gojek saat ini sudah diunduh sekitar 125 juta orang, memiliki lebih dari 300 ribu merchants, 1,7 juta mitra pengemudi/pengendara, serta beroperasi di 207 kabupaten/kota.

Gojek juga memiliki rekor fantastis dalam melayani pelanggan. Jika diukur jaraknya, Gojek sudah melayani total 4,1 miliar kilometer perjalanan layanan Go-Ride, Go-Car, dan lainnya. Jarak tersebut setara dengan 5.000 kali pergi-pulang dari bumi ke bulan.

Selain itu, tercatat sudah mengirimkan 529 juta makanan dan minuman melalui Go-Food dengan menu populer ayam, nasi, mi, makanan goreng, dan martabak. Gojek menjadi sebuah ekosistem dari tiga super apps yang melayani orang (people), barang (things), dan uang (money).

Lebih lanjut, Michael juga memastikan bahwa Gojek tidak berencana menghentikan layanan promo bagi pelanggannya.

Dia menegaskan era bakar uang yang dimaksudnya berkaitan dengan subsidi berlebihan yang dialokasikan untuk promosi, misalnya diskon tarif layanan. Bentuk promo ini akan memberikan kesan harga yang murah. Namun, menurut Michael, hal tersebut ialah perihal yang semu karena promosi tidak berlaku permanen.

Dalam jangka panjang, lanjutnya, subsidi berlebihan akan mengancam keberlangsungan industri, menciptakan monopoli, dan menurunkan kualitas layanan dari industri itu sendiri.

Ancaman terhadap keberlangsungan industri dapat mengakibatkan hilangnya peluang pendapatan bagi para mitra driver. Michael mengatakan pihaknya berupaya agar kondisi tersebut tidak terjadi di tubuh Gojek.

"Gojek ingin menjaga keberlangsungan industri ini agar mitra driver kami terus mendapatkan sumber penghasilan yang berkelanjutan, serta para konsumen terus dapat menikmati layanan aman, nyaman, dan berkualitas," tegas Michael.

Transisi kepemimpinan

Secara terpisah, Co-CEO Gojek Kevin Aluwi dan Andre Soelistyo menegaskan bahwa transisi kepemimpinan di tubuh Gojek dipastikan akan berjalan mulus menyusul mundurnya CEO Gojek Nadiem Makarim lantaran masuk ke jajaran kabinet Presiden Joko Widodo.

Dalam keterangan tertulisnya, kemarin, keduanya menyatakan mereka telah menjalankan bisnis Gojek dalam beberapa tahun terakhir.

Jajaran eksekutif Gojek juga diperkuat dengan pengangkatan Komisaris Gojek Garibaldi Thohir menjadi komisaris utama untuk memimpin jajaran pengawas perusahaan.

Nadiem sendiri tidak lagi berperan apa pun di Gojek, baik sebagai eksekutif maupun penasihat perusahaan. (Ant/Try/E-3)

BERITA TERKAIT