22 October 2019, 22:15 WIB

PBNU: Pesantren Harus Bisa Menari Satu Gendang dengan Pemerintah


Abdillah Muhammad Marzuqi | Humaniora

MI/Abdillah Muhammad Marzuqi
 MI/Abdillah Muhammad Marzuqi
Ketua Rabithah Ma

KETUA Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Abdul Ghofarrozin, mengungkap pesantren memiliki peran dan tugas yang penting mengingat jumlah yang besar dan komitmen kebangsaan yang begitu besar.

"Saat ini Indonesia memiliki lebih dari 29 ribu pesantren, lebih dari 5 juta santri, dan lebih dari 90 juta komunitas santri. Bukan hanya jumlah yang banyak, pesantren juga memiliki komitmen dan doktrin keberagamaan yang menekankan nasionalisme, toleransi, dan perdamaian," ungkap Rozin saat jumpa pewarta jelang Pidato Kebudayaan Hari Santri 2019 di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa (22/10).

Menurutnya, dengan kuantitas dan kualitas yang dimiliki, pesantren bukan hanya menjadi objek, melainkan menjadi subjek aktif bagi pencapaian cita-cita kemerdekaan seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dan beberapa kebijakan seperti capaian SDGS.

"Saya kira pesantren harus bisa menari satu gendang dengan apa yang dilakukan pemerintah ke depan yakni pembangunan manusia," ungkapnya.


Baca juga: Peringati Hari Santri, Ponpes Ummul Quro Komitmen Jaga NKRI


Ia menekankan pesantren menyadari besarnya tantangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab, hampir seluruh negara, termasuk Indonesia, dihadapkan pada tantangan Revolusi Industri 4.0 dan menguatnya paham dan sikap intoleran bahkan radikal.

"Sebagai bagian dari komitmen pengabdian kepada bangsa dan negara, pesantren akan menguatkan kompetensi dan secara aktif melawan radikalisme. Pesantren tetap menjadi bagian dari negara-bangsa untuk mencapai zaman emas 2045," sambungnya.

"Ini salah satu substansi yang ingin disampaikan dalam refleksi hari santri," pungkas Rozin. (OL-1)

 

BERITA TERKAIT