23 October 2019, 01:00 WIB

Nila F Moeloek Tidak Ada Kata Pensiun


Indriyani Astuti | Hiburan

ANTARA
 ANTARA
Menteri Kesehatan periode 2014-2019 Nila Farid Moeloek

MENTERI Kesehatan periode 2014-2019 Nila Farid Moeloek, 70, menggelar acara perpisahan di kediamannya di Parta Kuningan, Jakarta, Minggu (20/10). Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menuturkan meski sudah tidak lagi bertugas menjadi menteri, baginya tidak ada kata pensiun. Ia mengatakan akan tetap aktif dalam kegiatan di akademis atau sosial.

"Saya tidak punya kata pensiun. Karena sudah diberi oleh Yang Kuasa kemampuan bisa diberikan pada masyarakat, kita bisa membimbing mahasiswa yang membuat tesis, membantu penelitian, atau menolong masyarakat bakti sosial. Mencari duit untuk operasi katarak," tutur Nila.

Ia mengaku setelah tidak lagi jadi menteri, ia punya lebih banyak waktu luang untuk menjalani hobinya, misalnya lari pagi. Rutinitas yang padat selama ini membuat Nila tidak bisa leluasa untuk lari pagi.

Padahal, istri dari Prof Farid Anfasa Moeloek yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan pada era kepemimpinan presiden BJ Habibie itu, mengaku joging ialah salah satu hobinya.

"Setiap pagi saya bangun, mengingat-ingat acaranya apa, otak saya muter. Tadi pagi bangun. Acaranya kosong, kan enak banget. Kalau di Kementerian Kesehatan, otak saya mikirnya banyak kerjaan, keringetan. Nanti enggak gaya dong. Penampilan harus dijaga. Nanti kalian enggak mau foto menterinya," canda Nila yang kelahiran 11 April 1949 itu.

Ketika ditanya hal yang akan ia rindukan, Nila menuturkan saat melewati Kementerian Kesehatan akan terkenang ruangan tempat ia berdinas sehari-hari selama lima tahun mengabdi. Ruangan tersebut, imbuhnya, juga sempat ditempati suaminya ketika menjadi Menteri Kesehatan.

"Saya suka ke Salemba, melewati Kemenkes. Pak Moeloek pernah duduk di situ, tiap hari lewat, oh dulu saya duduk di sana. Bagaimana ya sekarang ruangannya. Enak juga sih nanya-nanya. Enggak pusing," ucapnya.

 

Pembenahan

Nila mengakui masih banyak yang harus dibenahi untuk bidang kesehatan. Pertama, menurut Nila, sumber daya manusia kesehatan. Lulusan dokter, perawat, dan bidan harus dipastikan berkualitas. Selain itu, perlu dipikirkan pemerataan tenaga kesehatan. Nila menyampaikan saat ini ada hampir 12 ribu lulusan pendidikan kedokteran setiap tahun. Mengaturnya bagaimana. Dulu ada Instruksi Presiden. Mau enggak mereka ke daerah? Semua maunya ke kota yang padat. Perawat, juga ada 5.000 per tahun lulus, mereka mau ke mana," tutur Nila.

Kedua, penguatan fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan akses ke rumah sakit rujukan di daerah. Ia juga menyoroti program Kementerian Kesehatan yang masih dilanjutkan, antara lain Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga. Program itu mendorong pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) mendatangi setiap rumah di daerah kerja mereka untuk mendata permasalahan kesehatan di setiap keluarga.

Menurut Nila, cara itu menjadi salah satu deteksi dini. Jika diketahui ada anggota keluarga sakit bisa dirujuk berobat. Kalau ada yang mengidap hipertensi, diimbau rutin minum obat antihipertensi untuk mengendalikan tekanan daerah.

Ia mencontohkan, banyak balita kurang gizi di suatu daerah. Ditemukan pula di daerah tersebut, sanitasi tidak memadai dan air bersih terbatas. Penanganan hal itu harus dikoordinasikan antara sektor kesehatan dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

"Program Pendekatan Keluarga, gatekeeper (penjaga gawang) yang benar. Informasi kesehatan harus masuk ke masyarakat. Banyak yang hingga kini tidak tahu stunting," tuturnya.

Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga, terang Nila, juga mencegah penyakit dan sebagai upaya deteksi dini. Hal itu erat kaitannya dengan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) supaya anggaran JKN tidak membengkak. "Kemenkes bekerja di hulu agar tidak banyak yang sakit," tukasnya. (H-3)

BERITA TERKAIT