23 October 2019, 00:40 WIB

Perkawinan Anak Kerikil Bonus Demografi


MI | Humaniora

ANTARA
 ANTARA
Perkawinan Anak Kerikil Bonus Demografi

SATU dari enam perempuan yang saat ini berusia 20-24 tahun telah menikah ketika mereka di bawah 18 tahun. Tak mengherankan, Indonesia menduduki posisi kedua di Asia Tenggara dan ketujuh di dunia dalam hal perkawinan anak yang umumnya terjadi pada 16-17 tahun.

Informasi itu diperoleh dari data SDG Baseline Report on Children in Indonesia, Bappenas, dan Unicef. Masih tingginya angka pernikahan anak merupakan ancaman bagi pencapaian bonus demografi Indonesia.

Peran kelompok milenial yang berjumlah 35% dari total penduduk Indonesia, sangat penting di masa depan. Karena itulah, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, SpOG mengaku pihaknya menaruh perhatian besar terhadap kaum remaja lewat upaya re-branding program Keluarga Berencana (KB).

"Di era milenial ini, program KB harus memberi perhatian lebih besar pada remaja awal, yakni berusia 10-14 tahun sebab mereka sudah menghadapi masalah kesehatan dan kesejahteraan yang signifikan," ucap Hasto, beberapa waktu lalu.

Ia menyampaikan, beberapa daerah akan mengalami peningkatan jumlah remaja. Hal itu harus diriingi dengan edukasi yang tepat soal reproduksi dan menumbuhkan kesadaran untuk memiliki perencanaan yang matang dalam berkeluarga.

"Pubertas, kematangan seksual yang semakin dini (aspek internal) dan aksesibilitas terhadap berbagai media, serta pengaruh negatif sebaya (aspek eksternal) menjadikan remaja rentan terhadap perilaku seksual berisiko," urainya.

Berbagai faktor itu membuat remaja rentan mengalami pernikahan di usia dini, kehamilan tidak diinginkan, dan terinfeksi penyakit menular seksual, hingga aborsi yang tidak aman. Organ reproduksi perempuan usia di bawah 20 tahun masih belum matang sehingga sangat rentan terkena kanker mulut rahim pada 10-20 tahun kemudian. "Maka sangat penting untuk mengetahui kesehatan reproduksi," imbuhnya.

Pendapat yang sama diungkapkan Prof Meiwita Budhiharsana dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Pengetahuan yang lebih baik, akses ke informasi dan layanan kesehatan reproduksi diperlukan untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan kaum remaja dalam melindungi diri dari pengalaman kekerasan di sekolah (intimidasi) dan di rumah (kekerasan rumah tangga), serta jenis kekerasan seksual lain yang diprakarsai teman sebaya dan orang dewasa di sekitar mereka.

"Satu dari enam remaja muda telah mengalami viktimisasi fisik, anak laki-laki lebih cenderung menggertak, diintimidasi, dan menyaksikan intimidasi. Pemerintah harus memperbarui berbagai peraturan dan kebijakan untuk mengatasi dan mencegah perilaku semacam itu," katanya.

Pentingnya memberi perhatian pada remaja awal itu juga menjadi salah satu butir rekomendasi dari konferensi internasional mengenai Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (International Conference Indonesia Family Planning and Reproductive Health/ICIFPRH) yang berlangsung 28 September hingga 2 Oktober 2019, di Yogyakarta.

Pada konferensi internasional itu diluncurkan pula hasil penelitian Global Early Adolescent Study (GEAS) dan Youth Voices Research di tiga kota di Indonesia, yakni Lampung, Semarang, dan Denpasar. Salah satu temuannya ialah orangtua jarang membahas masalah pubertas dan yang berhubungan dengan seksualitas dengan anak remaja mereka. Selain itu, ditemukan juga bahwa anak laki-laki lebih banyak mengalami kerugian emosional daripada anak perempuan. Anak laki-laki menunjukkan skor lebih tinggi secara signifikan pada gejala-gejala depresi serta lebih rendah pada kebebasan untuk bersuara. Anak laki-laki juga lebih mungkin pernah mengalami kekerasan jika dibandingkan dengan anak perempuan. Hasil penelitian itu tampaknya terkait dengan norma stereotip gender yang berlaku. (Rosmery Sihombing/Sri Utami/H-2)

BERITA TERKAIT