22 October 2019, 20:18 WIB

Pesan Lingkungan lewat Medium Seni


Usman Iskandar | Weekend

MI/Usman Iskandar
 MI/Usman Iskandar
Karya- karya instalasi dalam Festival Universitas Jember (Unej) yang bertajuk  Membangun Desa.

BEBERAPA helai kain warna warni dibentangkan di antara pepohohonan  secara tidak beraturan namun saling berkaitan. Sementara itu sejumlah kain berbentuk segitiga terpasang berdiri di antara sejumlah pohon tepat di tepi jalan dengan simbol-simbol gambar kampanye peduli linkungan.

Karya- karya instalasi itu merupakan bagian dari sejumlah karya dalam Festival Universitas Jember (Unej) yang bertajuk  Membangun Desa. Festival ini berlangsung pekan kemarin hingga pertengahan November.

Festival difasilitasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP2M) Unej dengan menggandeng  Farhan Siki , seniman street art, bersama dengan perupa  Aidul Usman serta kurator seni rupa Bambang Asrini Widjanarko. Mereka bersepakat membuat kerja seni berbasis lingkungan hidup.

Bertiga mereka berkolaborasi dengan seorang  ahli bio-teknologi di bidang pangan dari Universitas Jember Profesor Achmad Subagio.  Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Unej penemu tepung Mocaf (Modified Cassava Flour) inilah yang menginisiasi program pengabdian pada masyarakat dengan pendekatan seni.

“Seni sebagai penyampai pesan, saya pikir efektif untuk menciptakan peluang-peluang kreatif dengan berlatar budaya setempat di desa binaan Unej, utamanya Desa Sumber Canting, Kecamatan Wringin Bondowoso” ujar Subagio, akhir pekan kemarin.

Subagio percaya bahwa pendekatan budaya sama kuatnya dengan sains serta teknologi untuk menciptakan manfaat yang lebih riil bagi masyarakat desa. Tiga orang seniman bersama seorang ilmuwan kemudian  bersama-sama menggagas ide membuat sejumlah karya instalasi lingkungan di Desa Sumber Canting di pinggiran kota Jember yang dikenal gersang.

Karya-karya instalasi tersebut membuat atmosfir berbeda di lingkungan desa tersebut, yang memang memiliki potensi obyek wisata Potre Koning, dengan panorama alam yang elok dengan kontur perbukitan, tebing yang indah serta Goa Mustajab yang dipercaya memberi berkah.
 
Potre Koning sendiri merupakan sebuah legenda tentang Putri yang cantik dari keturunan raja-raja Sumenep dan makamnya di Pulau Madura sering diziarahi orang-orang Madura. Legenda itu, secara unik mempertemukan akulturasi corak etnik Jawa-Madura dengan membawa kisah menakjubkan tentang Goa Mustajab, yang membawa keberkahan tertentu jika para pengunjung merajut harap, keberuntungan atas rezeki atau permintaan akan jodoh.
 
“Proyek seni  instarlasi di lingkungan di desa ini, secara tidak sengaja mempertemukan materi berbahan alami dengan bambu, kain, dan lilitan tali-temali yang kemudian diimajinasikan menjadi harapan harapan dan  terajut  dengan dongeng tentang sang Potre Koning" Ujar Bambang Bambang Asrini widjanarko, selaku kurator seni.

Bambang menambahkan  seni  seni instalasi di alam terbuka  ini menambah daya pikat baru dan atmosfer baru bagi kawasan wisata  yang sebelumnya kering, meranggas dan didominasi bebatuan menjadi lebih berwarga sekaligu menjadi arena ruang estetika di alam terbuka. (A-2)

BERITA TERKAIT