22 October 2019, 18:15 WIB

Rayakan Keberagaman, Madani Film Festival Kembali Digelar


Fathurrozak | Weekend

IMDB
 IMDB
Salah satu adegan film Yomeddinne (2018) yang menjadi pembuka Madani Film Festival 2019.

Tahun ini merupakan perjalanan kedua bagi Madani Film Festival. Festival yang berlangsung sejak kemarin (21/10) hingga 27 Oktober ini mengusung tema rekonsiliasi.

Pembukaan festival kemarin ditandai dengan pemutaran film Yomeddinne (2018) asal Mesir, karya sutradara Abu Bakr Shawky. Tahun lalu, film ini berkompetisi dalam seksi utama Cannes Film Festival, yakni Palme d'Or. Namun, meski gagal meraih penghargaan pada seksi utama, Yomeddinne berhasil membawa pulang Franchois Calaise Prize dari Cannes.

Sebelum pemutaran, direktur festival Sugar Nadia Azier menyampaikan kehadiran Madani Film Festival ialah perayaan akan keberagaman. Meski secara khusus film-film yang diputar memiliki singgungan yang kuat dengan Islam, namun nilai yang diutamakan ialah suatu peradaban kemanusiaan.

"Ini tidaklah eksklusif untuk masyarakat muslim saja. Melainkan festival ini untuk merayakan keberagaman dan kemanusiaan. Tema tahun ini yakni reconcile atau rekonsiliasi, yang sering dipadankan dengan perdamaian atau penyatuan kembali. Semoga festival ini hadir menjadi kontemplasi utnuk masyarakat kita," ungkapnya saat pembukaan Madani Film Festival di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin, (21/10).

Garin Nugroho yang tergabung sebagai festival board mengungkapkan lebih jauh, pasca pemilu, publik masuk dalam politik identitas. Suasana dukung mendukung yang menurutnya dianggap menjadi tidak ada penghormatan untuk kemanusiaan itu sendiri.

"Madani mengandung arti peradaban. Semoga ini juga membawa kita kembali ke apa yang disebut peradaban. Susastra untuk menangkap kehidupan kemanusiaan. Maka menonton film pembuka (Yomeddinne) tidak akan menemukan jargon hitam putih vulgar, doktrin kekerasan, atau doktrin perang yang merajalela. Pada apa yang disebut jalan madani, susastra menjadi penting. Di tengah gegap gempita, kita memerlukan kembali membaca peradaban lewat susastra, tentang kemanusiaan," tambah Garin.

Festival ini akan hadir di beberapa ruang publik. Selain di Epicentrum, film-film Madani Film Festival juga akan diputar di CGV FX Sudirman, pusat kebudayaan Amerika di Indonesia @America, pusat kebudayaan Prancis di Indonesia IFI Thamrin, Indiskop, dan beberapa di kampus Universitas Bina Nusantara.

Tidak hanya di Jakarta, festival ini juga hadir di Malang dan Bandung dengan diputarnya beberapa film di America Corner ITB dan Universitas Muhammadiyah Malang.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang membuka festival ini merasa bersyukur bahwa festival ini diselenggarakan di Jakarta dan menyatakan siap memberikan dukungan untuk penyelenggaraan selanjutnya.

"Persis yang disebut sebagai rekonsiliasi adalah hasil usaha. Diversity adalah latar belakang dan seringkali kita lupa bahwa hal penting ialah unity. Hal yang harus  dikerjakan bersama. Unity merupakan hasil usaha, diversity merupakan latar belakangnya. Usaha kita membawa diversity juga pentingnya unity."

Madani Film Festival 2019 juga akan ditutup oleh film yang masuk sebagai nomine Palme d'Or tahun lalu, 3 Faces. Film asal Iran karya Jafar Panahi ini meraih Best Screenplay di Festival Film Cannes 2018. 3 Faces akan diputar pada penutupan Madani Film Festival, (27/10) di IFI Thamrin, Jakarta Pusat. (M-2)

BERITA TERKAIT