22 October 2019, 14:45 WIB

TikTok Hapus Video Propaganda Kelompok Teroris IS


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP/JOEL SAGET
 AFP/JOEL SAGET
Apliaksi media sosial TikTok milik perusahaan Tiongkok, ByteDance.

APLIKASI media sosial TikTok telah menghapus akun yang mengunggah video propaganda untuk kelompok teroris Islamic State (AS), kata seorang karyawan perusahaan mengatakan Selasa, (22/10), dalam skandal terbaru yang menimpa platform populer.

TikTok, yang dimiliki oleh perusahaan Tiongkok, ByteDance, mengklaim sekitar 500 juta pengguna secara global tahun lalu, menjadikannya salah satu aplikasi sosial paling populer.

Seorang karyawan di TikTok mengatakan kepada AFP sekitar 10 akun telah dihapus karena mengunggah video terkait propaganda terorisme.

"Hanya satu dari video-video itu yang bahkan memiliki view yang mencapai dua digit sebelum dihapus," kata staf itu, yang menolak disebutkan namanya.

Video-video itu menampilkan mayat-mayat yang diarak di jalan-jalan dan para pejuang IS dengan senjata, menurut Wall Street Journal, yang pertama kali melaporkan berita itu pada Senin.

Journal mengatakan unggahan tersebut berasal dari sekitar dua lusin akun, yang diidentifikasi oleh perusahaan intelijen media sosial Storyful.

"Konten yang mempromosikan organisasi teroris sama sekali tidak memiliki tempat di TikTok," kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan ke AFP.

"Kami secara permanen mencekal akun semacam itu dan perangkat terkait segera setelah diidentifikasi, dan kami terus mengembangkan kontrol yang lebih kuat untuk secara proaktif mendeteksi aktivitas mencurigakan," katanya.

IS, yang dideklarasikan sendiri di Irak dan Suriah, jatuh pada Maret, tetapi kelompok itu tetap aktif di beberapa negara di Timur Tengah, Afrika, dan Asia, serta masih menginspirasi para jihadis melalui perangkat daring.

Platform TikTok, yang memungkinkan pengguna untuk membuat dan berbagi video berdurasi 15 detik, sangat populer di kalangan remaja.

"Tidak seperti platform lain, yang berpusat di sekitar teman atau komunitas pengguna, TikTok didasarkan pada keterlibatan dengan aliran konten baru yang tidak pernah berakhir," kata Darren Davidson, kepala editor Storyful.

"Unggahan-unggahan ISIS (IS) melanggar kebijakan TikTok, tetapi banyaknya konten membuat TikTok sulit untuk mengawasi platform mereka dan membasmi video-video ini," ujarnya.

Aplikasi ini telah dirusak oleh kontroversi dalam beberapa bulan terakhir.

Pada April lalu, TikTok sempat dilarang oleh pengadilan India karena mengklaim mempromosikan pornografi di kalangan anak-anak.

Aplikasi ini dilarang di negara tetangga Bangladesh dan dijatuhi dengan denda yang sangat besar di Amerika Serikat karena secara ilegal mengumpulkan informasi dari anak-anak.

Perusahaan telah membantah tuduhan itu, mengatakan mereka mematuhi hukum privasi setempat.

ByteDance memiliki versi TikTok di Tiongkok yang disebut Douyin. (AFP/Hym/OL-09)

BERITA TERKAIT