22 October 2019, 14:32 WIB

Pesantren Telah Diakui Setara Pendidikan Formal


Bayu Anggoro | Nusantara

MI/Bayu Anggoro
 MI/Bayu Anggoro
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memberikan hadiah kepada santri pada peringatan Hari Santri Nasional, Selasa (22/10).

PEMERINTAH Provinsi Jawa Barat berharap pesantren mendapat  penghormatan dan pengakuan yang lebih seiring dengan telah disahkannya Rancangan Undang-Undang Pesantren. Melalui payung hukum itu, diharapkan gerak dan kontribusi lembaga pendidikan agama tersebut bisa lebih besar untuk pembangunan bangsa dan negara.

Hal ini diungkapkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Emil) saat menggelar peringatan Hari Santri tingkat provinsi, di Bandung, Selasa (22/10). Acara ini dihadiri juga Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum serta ribuan santri dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat.

Emil menjelaskan, pesantren sangat terbantu dengan terbitnya undang-undang tersebut. Salah satunya terkait penganggaran untuk lembaga pendidikan tersebut yang selama ini dianggap terlewat.

"Alhamdulillah ada yang istimewa dengan diloloskanya Undang-Undang Pesantren. Ini menandakan negara memfasilitasi program maupun anggaran yang selama ini terlewat, khususnya di pesantren tradisional," katanya.

Selain itu, kini lulusan pesantren pun mendapat pengakuan yang lebih karena berhak memiliki ijazah yang setara dengan pendidikan
formal.

"Tamatan pesantren memiliki hak sama dengan tamatan lembaga lainnya," kata Emil.

Oleh karena itu, dia berharap nantinya pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi bisa juga menjadi sarana berdakwah terutama dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan negara.

"Suasana jadi luar biasa, tradisi baru. Ini menandakan kita menghormati sumber daya manusia lulusan pesantren," katanya.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun, lanjut Emil, sangat menghargai keberadaan pesantren beserta ulama dan santri. Terlebih, menurutnya terdapat banyak pesantren yang berdiri di seluruh kabupaten/kota yang ada.

"Ada 10 ribu lebih pesantren di Jawa Barat," katanya.

Oleh karena itu, Emil menegaskan pihaknya menyiapkan program One Pesantren One Product yang diharapkan bisa meningkatkan perekonomian di pesantren.

Saat ini terdapat perwakilan dari 1.100 pesantren yang dipersiapkan untuk menjadi wirausahawan.

"Ujungnya kemandirian ekonomi. Selain dari negara, pemprov, juga dari pesantren," katanya.

Tak hanya itu, Emil pun memastikan pihaknya menggandeng santri dalam menjaga perdamaian dunia. Itu dibuktikan dengan adanya program pengiriman ulama asal Jawa Barat untuk berdakwah di berbagai negara.

"Ulama-ulama jebolan pesantren dakwah ke Eropa. Lima sudah berangkat," katanya.

Di tempat yang sama, Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum
mengapresiasi adanya peringatan hari santri.

"Ini ajang silaturahmi pesantren, kyai, dan santri. Ini juga hiburan buat santri, jalan kaki ramai-ramai, ngobrol. Para santri bahagia," katanya.

Uu yang juga lama mengenyam pendidikan di pesantren menjelaskan, ulama dan santri memiliki jasa yang besar terutama dalam meraih kemerdekaan Indonesia.

"Santri berjasa terhadap bangsa dan negara. Kalau kata Pak Karno Jas Merah, kalau saya Jas Hijau, jangan sekali-sekali menghilangkan jasa ulama," katanya.

Santri pun, kata Uu, turut serta dalam menegakkan Pancasila di masa saat ini.

"Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Pancasila dasar negara," katanya.

Oleh karena itu, dia mengajak semua unsur bangsa ini untuk tetap berpegang teguh kepada agama. Dia meyakini nilai-nilai agama akan memperkokoh kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Kalau negara tanpa agama, akan hampa. Buat apa teknologi maju, dunia sukses, tapi banyak yang bunuh diri, banyak yang stres," katanya.

Dengan ikatan nilai-nilai agama, menurutnya kehidupan masyarakat akan lebih baik bahkan bisa menggapai kesuksesan di dunia dan akhirat. Uu pun menyayangkan banyaknya orangtua yang kurang memerhatikan pendidikan agama anak-anaknya.

baca juga: Rayakan Hari Santri Dengan Salat Istisqa

Mereka, lanjut Uu, banyak yang merasa bangga karena anaknya pandai dalam  pendidikan dunia, meski pada sisi lain pendidikan agamanya kurang.

"Orangtua bangga anaknya jadi juara kelas, olimpiade matematika, Tapi enggak sakit hati ketika anaknya sudah (berusia) 12 tahun Fatihah-nya tidak benar, rakaat salat enggak benar, baca Quran enggak benar. Mudah-mudahan dengan Hari Santri ini menyadarkan kembali," harapanya. (OL-3)

BERITA TERKAIT