22 October 2019, 10:10 WIB

Kelompok Abdul Basith Siapkan Bahan Peledak


Media Indonesia | Politik dan Hukum

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
 ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono .

POLDA Metro Jaya menangkap enam orang terkait dengan rencana menggagalkan pelantikan presiden dan wakil presiden pada 20 Oktober 2019. Mereka ialah SH, E, FAB, HRS, RH, dan PSM.

Menurut Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, ada komunikasi yang dilakukan antara SH dan mantan dosen IPB University, Abdul Basith (AB).

“Beberapa komunikasi antara tersangka AB dan tersangka SH, kaitannya untuk upaya menggagalkan pelantikan presiden,” ungkap Argo di Kantor Polda Metro Jaya, kemarin.

Penangkapan keenam orang itu diawali temuan sebuah grup Whatsapp yang beranggotakan 123 orang buatan SH. Argo menyebut isi pembicaraan dalam grup tersebut seputar perencanaan menggagalkan pelantikan presiden dan wapres.

Cara yang digunakan para tersangka ialah dengan menggunakan bola karet berisi bahan peledak yang ditembakkan dengan ketapel kayu dan besi. “Ketapel dan bola karet rencanaya akan dipakai di Gedung DPR/MPR untuk menyerang aparat, mengganggu ketertiban umum, biar aksi memanas,” terang Argo.

Kelompok tersebut, lanjut Argo, juga berencana untuk melepas delapan ekor monyet di Gedung DPR/MPR dan Istana Merdeka. Hal itu bertujuan untuk membuat teror dan kekacauan.

SH ditangkap bersama dua tersangka lainnya, yakni E dan FAB di Jatinegara, Jakarta Timur. Ketiganya kedapatan sedang merakit bola karet yang akan digunakan sebagai peluru ketapel. SH juga berperan mencari dana untuk membeli perlengkapan ketapel dan pelurunya.

E dan FAB juga berperan sebagai penyandang dana bersama dengan satu tersangka lain, yakni HRS.

Sementara itu, tersangka RH berperan sebagai penjual dan pembuat ketapel kayu. Argo menyebut SH memesan 200 ketapel kayu dari RH. “Yang sudah dijual sebanyak 22 ketapel dengan harga satuan Rp8.000.” Sementara itu, tersangka PSM berperan membeli ketapel dan karet lewat daring.

Salah satu anggota grup ialah Eggi Sudjana. Eggi sudah dimin­tai keterangan sebagai saksi karena dalam percakapan­ di grup tersebut pernah diminta menjadi donatur pembuatan bom. (*/P-3)

BERITA TERKAIT